Jingga di tepi Subuh
- Cerpen Tengku Marni Adriyah
Pulanglah kekasih. Tapi ingat, jangan hanya ketika bintang bertamu. Pulanglah sekali-sekali
saat embun menguap, kau tahu, saat itu aku meringkuk menahan
rindu.
Subuh baru sampai. Matahari saja masih ketinggalan di ujung barat. Perempuan itu bergegas membuka pintu. Azan memanggilnya di beranda. Ia berharap, selesai salat, Ben sudah sampai.
Selesai tilawah, ia buka semua jendela. Ben belum juga tiba, ia mungkin agak telat. Diseduhnya kopi, manis agak pahit. Ia tersenyum. Seperti kisah hidupku. Masih ada waktu, Ben pasti senang. Kalau ia pulang, di atas meja makan ada segelas kopi dan sepiring nasi goreng dibungkus telur dadar. Nasi goreng demam, julukan Ben. Lalu ia pasti akan berkata, kau adalah sosok yang diidamkan semua lelaki.
Subuh baru sampai. Matahari saja masih ketinggalan di ujung barat. Perempuan itu bergegas membuka pintu. Azan memanggilnya di beranda. Ia berharap, selesai salat, Ben sudah sampai.
Selesai tilawah, ia buka semua jendela. Ben belum juga tiba, ia mungkin agak telat. Diseduhnya kopi, manis agak pahit. Ia tersenyum. Seperti kisah hidupku. Masih ada waktu, Ben pasti senang. Kalau ia pulang, di atas meja makan ada segelas kopi dan sepiring nasi goreng dibungkus telur dadar. Nasi goreng demam, julukan Ben. Lalu ia pasti akan berkata, kau adalah sosok yang diidamkan semua lelaki.
Jam berbunyi
tujuh kali, sudah dua jam. Akhir-akhir ini Ben selalu begitu, telat. Ia hela
napas, menunggu Ben saat yang paling mendebarkan untuknya, seperti bermain
judi. Satu waktu ia menang, lain waktu ia kalah banyak. Akh, tak ada gunanya
menyesal, toh menunggu adalah pilihannya.
Jam sembilan
lewat seperempat. Ning masih belum bangun, tadi malam ia terus merengek di
kamarnya.
“Aku sempatkan
pulang, pas jam makan siang,” kata Ben ditelepon setengah jam yang lalu.
Kalimat sama yang hampir setiap hari singgah di telinganya. Sejak ia
memutuskan. Ya, memilih Ben.
Di luar rintik
mulai bertamu, mengedor pucuk daun. Satu mangkuk sup kimlo dan sepiring ayam
goreng tangkap, sudah terhidang di meja makan. Itu juga kesukaan Ben.
“Ma, ayah belum
pulang?” Ia tatap Ning. Di mata gadis kecilnya ada rindu yang menggeliat.
“Sebentar lagi.
Oya, Ayah bilang, Adek disuruh makan dulu.” Ning mengangguk cepat.
Bahagia berloncatan di wajahnya. Ia belum mengenal kata klise.
Sudah jam dua.
Ning sedang tidur siang. Ben telat lagi, ia tak pulang tiga hari. Hujan semakin
deras, butirnya mulai berlompatan ke dalam rumah. Tapi ia takut menutup pintu.
Takut Ben tiba-tiba datang, dan ia tak bisa langsung masuk.
Waktu itu juga
hujan deras, Ben memberikannya tumpangan. Saat isyarat bersambut dan degup
bertaut. Ben bukan orang asing, ia datang dari masa lalu. Tak ada yang berubah,
Ben masih tetap perhatian. Secara fisik ia jadi lebih matang. Sejak itu janji
semakin sering menuntut, tak terelakkan. Rindu membuat ia lupa bahwa Ben adalah
seorang Ayah. Ia coba lari menjauh, bahkan ke tempat yang ia anggap tak mampu
Ben temukan. Tapi seperti yang Ben katakan, “Warna Jingga tidak bisa
bersembunyi di manapun, dia akan selalu jelas terlihat.” Ben dapat
menemukannya.
“Tak ada yang
salah.”
“Ada,”
“Kau perempuan
dan aku laki-laki.”
“Ada. Aku masih
berkerudung sepi, dan kau?”
Ia mencintai
Ben, sangat. Tapi Roza? Perempuan dengan lesung di pipinya. Aku tak ingin jadi
Jingga, merusak warna indah hidup perempuan lain. Aku cukup jadi Jingga untuk
diriku sendiri.
“Tak kan ada
yang terluka, aku janji.”
“Berdirilah di
tempatku Ben, dan cobalah berkunjung ke hati Roza. Kau dewa baginya. Ia bisa
hancur Ben.”
“Jingga, aku
tak pernah berencana untuk jatuh cinta padamu. Rasa ini datang, aku
terperangkap, dan tiba-tiba aku merasa aku tak bisa hidup tanpamu.”
“Aku perempuan
Ben, akan melahirkan anak perempuan, dan aku tak mau anak perempuanku
menanggung dosa ibunya.”
“Tidak pernah
ada orang yang menanggung dosa orang lain, meskipun itu ibu kandungnya.”
“Maaf
Ben, tapi aku percaya karma.”
“Jingga, tak
ada yang salah, aku mohon jangan hukum aku.” Ben memeluknya. Ia lelah berlari,
tangisnya pecah.
Ia jadi
perempuan lemah. Walau Ben di sampingnya selau ada saja yang membuatnya
terluka. Karena lisan bertaring tajam yang memamah kekuatannya. Juga tatap yang
belomba menusukkan belati pada kisahnya. “Maaf Jingga. Aku harus menepati
janji, selagi aku bisa.” Roza semakin merantainya. Seperti semua perempuan,
Roza pun tak ingin berbagi cinta.
Sejak kehadiran
Ning luka itu semakin sering datang. Ning, anak yang terlahir karena takdir, ia
tidak pernah minta jadi anak istri kedua. Ia kutipi kekuatan saat Ning berkata,
“Ma, adek ndak mau ke rumah nenek. Nenek ndak sayang sama adek. Cuma ayah di
sana yang sayang adek.” Akh Ben, aku jadi begitu lemah dan penakut, bahkan
untuk sekadar menatap lurus ke depan.
Hujan masih
deras. Ben tak jadi datang, Roza sakit. “Besok jam lima aku pasti pulang.”
Ditutupnya
semua pintu. Pada sajadah tangisnya pecah, ini adalah pilihannya.
“Mama, Ayah
belum Pulang?” Ia peluk Ning.
“Aku lelaki,
aku akan tepati janji, selagi aku bisa.” Ben sudah menunggu di depan pintu. Ia
peluk Ben, lama. “Aku akan di sini selama dua hari, menemanimu dan Ning.” Ia
tatap Ben, “Kita salat berjamaah ya.”
Subuh ini
indah, ia tutup semua pintu. Ben sudah di dalam, tak ada lagi yang ditunggu.
Hujan akhir-akhir ini semakin sering bertamu.
“Maaf Jingga,
aku membuatmu menunggu.”
“Perempuan
ditakdirkan menunggu, dan menunggumu ibadah bagiku.”
“Kau masih
mampu bertahan kan?”
“Selagi masih
ada cinta untukku dan Ning, aku akan coba terus bertahan.”
“Aku akan
sering pulang.”
“Ya, seringlah
jenguk Ning, karena selain aku, dia cuma punya kau, Ayahnya.” Ben mengusap
pipinya, ia kembali menangis.
Ia telah memilih
Ben, pilihan yang sakit dan ia berdoa cukup ia perempuan yang salah memilih.
Pilihan yang menjadikannya penjahat di mata banyak orang. Tapi, berjalan mundur
adalah menyakiti Ning. Ia harus bertahan, bukan hanya karena ia seorang istri,
tapi lebih karena ia seorang ibu.
“Mama, Ayah
udah pergi lagi, ya?”
Ia tersenyum,
“Sebentar lagi Ayah pulang.

good share
BalasHapus