Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Tengku Marni Adriyah
Tampilkan postingan dengan label Aku Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Guru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2022

Aksi Nyata Modul 2.2 (Pembelajaran Sosial Emosional)

 

Peristiwa : Diamanahkan untuk mendidik anak-anak yang berada di pondok, adalah tugas mulia sekaligus menantang. Banyaknya kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi serta intensitas pertemuan dengan orang tua yang minim, mengakibatkan Sebagian anak memenuhi kebutuhannya dengan perilaku yang tidak baik. Tujuan mereka adalah mencari perhatian, kasih sayang, kekuasaan, dan juga kesenangan. Tindakan yang paling sering adalah tidak masuk sekolah, dengan alasan Lelah, loundry belum datang, bertengkar, dlsb. Hal ini merupakan hal yang kami hadapi sehari-hari. 

Perasaan: Sebagai guru, saya dan teman-teman sadar bahwa kami harus bisa menerapkan KSE pada diri kami terlebih dahulu. Kami tidak boleh ikut larut dalam sosial emosi anak yang sedang berkecamuk. Setiap terjadi kasus yang menyimpang yang dilakukan murid, kami memastikan dahulu, bahwa kami mampu memanajemen diri kami terlebih dahulu agar mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Penerapan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho, saya Yakini dapat terlihat dengan jelas oleh murid.

Pembelajaran: Peran Praktik kesadaran penuh yang dapat memperkuat 5 Kompetensi Sosial Ekonomi, merupakan materi yang sangat berguna, bukan hanya untuk diimplementasikan kepada murid, tetapi juga wajib diimplementasikan kepada diri sendiri. Saya juga menyetujui prinsip Amongsystem kita yaitu: menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri.

 Pembelajaran umpan balik : Praktik kesadaran penuh yang saya lakukan adalah selalu menanyakan perasaan mereka dan kabar mereka Ketika hendak memulai pembelajaran, dan selalu menanyakan kesiapan Ketika hendak memulai aktivitas baru. Kegiatan Hal ini saya lakukan agar saya tidak mengabaikan kondisi sosial emosional murid. Dengan mempelajari modul PSE ini memberikan saya banyak pehamaan baru terkait bagaimana merancang, menerapkan, dan mengevaluasi Pembelajaran sosial emosional bagi murid.

 Penerapan: hal yang ingin saya lakukan adalah “Ing ngarso Sung Tulodho, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

 Ing ngarso Sung Tulodho : semua orang harus menjadi guru bagi orang lain terkait kompetensi sosial emosional. Saya selalu mengumpakan, Ketika kamu menunjuk seseorang dengan jari kamu untuk melakukan kebaikan, maka empat jari lain menunjuk pada dirimu sendiri (lakukan 4 kebaikan). Karena 4 kebaikan itulah yang akan menjadi contoh untuk murid dan orang lain.

 “Ing madya mangun karsa” keberhasilan murid untuk mengimplementasikan KSE pada dirinya, hanya dapat terwujud jika kita mampu berkomunikasi secara efektif dan menjalin hubungan positif agar dapat terus memberikan motivasi.

 “Tut Wuri Handayani” seseorang yang berada di belakang, bukan hanya bertugas sebagai pendorong, tetapi juga sebagai penopang apabila kondisi orang yang di depan sedang tidak baik. Kondisi sosial emosional seseorang pastilah berbeda, termasuk juga perbedaan resiliensi (ketahanan dan juga kemampuan untuk bangkit). Tugas kita adalah jeli melihat murid mana yang akan kita dorong, ataupun kita topang.

 Ketiga hal ini akan saya lakukan melalui:

 Murid harus mengenali dirinya sendiri, termasuk ciri-ciri kepribadiannya dengan cara mengisi buku panduan kerja mereka, yang berjudul Ciri-Ciri Kepribadian Saya.

2.      “Menulis pesan pujian” untuk diri sendiri dan teman, lalu memasukkannya ke kotak pujian.

3.      “melangkah keliling kelas dengan sepatu orang lain”sebuah kegiatan untuk menumbuhkan sikap empati.

4.      Pembelajaran eksplisit berkolaborasi dengan jam BK,

5.      Mengimplementasikan PSE melalui pembelajaran akademik, serta pelibatan murid dalam  rutinitas di sekolah sebagai pemimpin, pemecah masalah dan pembuatan keputusan.

6.      Membuat keyakinan Bersama terkait kSE Bersama pendidik dan tenaga pendidik

7.      Melakukan diskusi terkait KSE bagi pendidik dan tenaga pendidik

8.      Membentuk komunitas dan system mentoring bagi teman sejawat.


Qoutes:



 (Semua guru memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan, tapi kamu, salah satu yang terpilih untuk lebih dahulu melakukannya -TM)

(Tidak semua murid beruntung, memiliki guru yang bijaksana, tapi kamu, bisa menjadikan muridmu menjadi bahagian dari yang beruntung itu -TM)

Jumat, 09 September 2022

Aksi Nyata Modul 1. 4 (Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Melalui Budaya Positif)

                                                            Aksi Nyata Modul 1. 4 Seminar Pendidikan
                                       (Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Melalui Budaya Positif)



Disiplin, apakah yang ada di benak kita Ketika mendengar kata ini? Apakah rentetan peraturan yang apabila tidak dilaksanakan akan berakibat pada pemberian sanksi, atau berupa sikap yamg harus ada pada diri seseorang. Apapun persepsi kita tentang disiplin positif, pastinya hal ini lah yang akan menjadi cikal bakal menuju budaya positif.

Dari segi kata, disiplin berasal dari bahasa latin yaitu “Discere” yang artinya belajar. Yang jika diartikan lebih lanjut dari kata dasar “Discipline”, maka maknanya adalah latihan atau pendidikan dalam pengembangan harkat, spiritualitas, dan kepribadian.

Ki Hajar Dewantara menyatakan “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat “selfdiscipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan selfdiscipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Caranya ialah dengan melakukan pembiasaan -pembiasaan positif. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470).

Mempelajari modul 1.4 pada program guru penggerak ini, seperti sedang melakukan checklist kesalahan dari diri sendiri. Setiap materi yang tersajikan, selalu berhasil membuat saya terperanjat dan merasa malu, bahwa ternyata saya memiliki pandangan yang salah terkait disiplin dan budaya positif.

Sebagai seorang CGP, saya memiliki kewajiban untuk bergerak, menggerakkan komunitas agar merubah pandangan kami, bahwa selama ini kami menyakini ilusi kontrol yang salah, kami juga tidak sadar bahwa terlalu fokus menyemai motivasi ektrinsik pada diri murid, tetapi lupa menumbuhkan motivasi intrinsik menuju tercapainya budaya positif.  Untuk itu perlu diadakan seminar Pendidikan yang saya beri judul “Mewujudkan Profil pelajar Pancasila Melalui Budaya Positif”.

Seminar ini saya adakan di SMP Negeri 10 Kejuruan Muda, peserta seminar adalah para guru SMPN 10 Kejuruan Muda. Bertempat di kantor dewan guru, dimulai dari pukul 11.00 WIB hingga 12.30 WIB. Pembukaan Kegiatan dilakukan langsung oleh Kepala Sekolah SMPN 10 kejuruan Muda, bapak Baharuddin, S.Pd. Lalu dimulai dengan mengajukan pertanyaan pemantik, ice breaking terkait teori kontrol, dan penjelasan materi-materi terkait budaya positif, yang dimulai dari disiplin positif hingga segitiga restitusi.






Selasa, 06 September 2022

“Setiap kelas adalah rumah”


 

  

                                                      “Setiap kelas adalah rumah”
              (Memenuhi kebutuhan Belajar  Murid melalui pembelajaran berdiferensiasi)

“Setiap kelas adalah rumah”, berikut analogi yang saya gunakan sebagai pengingat untuk diri saya sendiri terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di rumah kita selalu ingat bahwa tidak semua anggota keluarga suka mendengar musik atau tidak semua anggota keluarga senang dengan keramaian. Kita sering bercerita tentang si adik yang lebih suka bertanya dan meminta kita menjelaskan satu persoalan secara detail, sementara si Kakak lebih tertarik pada tumpukan buku. Di rumah kita selalu bisa berlapang dada menerima perbedaan itu, dan berupaya mengakomodir kebutuhan mereka yang berbeda.

Lalu mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, sebagai seorang pendidik yang memiliki peran sebagai pemimpin pembelajaran, sudahkah kita memperlakukan hal yang sama di kelas? Apakah kita sudah berlaku adil terhadap murid-murid di kelas. Ingat, adil bukan memberikan perlakuan yang sama rata kepada murid, tetapi adil adalah memberikan perlakuan sesuai dengan kebutuhan murid. Kembali mengingat perkataan Bapak Ki Hajar Dewantara bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tugas kita adalah menuntun, bukan “menuntut” anak, dengan memperlakukan mereka sesuai dengan keinginan kita. Apakah kita sudah menuntun, atau selama ini kita hanya memposisikan diri kita sebagai pemantau, yang selalu beranggapan bahwa kendali kontrol anak ada pada kita.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah upaya yang dilakukan pendidik untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Lalu bagaimana cara kita mengetahui kebutuhan tersebut? Ada tiga aspek yang bisa kita lihat yaitu, kesiapan belajar, minat murid, dan profil murid. Untuk melihat ketiga aspek ini, dapat menggunakan berbagai strategi, mulai dari pengamatan, diskusi, survey, wawacara dengan wali murid, melihat buku penilaian, dlsb. Hasil dari ketiga aspek inilah nantinya yang akan menjadi pertimbangan pembelajaran di kelas. Sebagai seorang guru kita tentunya harus melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid, kemampuan berinovasi juga sangat diperlukan pada saat merancang proses pembelajaran di kelas. Kita harus menemukan strategi, untuk dapat mengakomodir semua kebutuhan anak, sehingga semua potensi yang ada pada dirinya dapat berkembang secara optimal.

 Ada tiga strategi diferensiasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yaitu: Diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten adalah materi, bahan atau informasi yang akan dipelajari oleh murid. Guru perlu menyediakan bahan, alat, materi atau media yang mengakomodir kebutuhan muridnya (kesiapan belajar, minat, profil murid, atau kombinasi ketiganya). Diferensiasi proses menekankan pada pemahaman murid selama pembelajaran berlangsung, dapat dilaksanakan dengan kegiatan berjenjang/bertahap,challenge, pertanyaan pemandu,mengembangkan kegiatan yang tidak membosankan, ,mengatur durasi sesuai kebutuhan murid. Diferensiasi produk adalah perbedaan produk yang dihasilkan oleh murid, murid boleh memilih moda ekspresinya dalam bentuk apapun sesuai minat, profil dan kesiapan belajarnya.

Agar pembelajaran berdiferensiasi berjalan dengan baik, ada beberapa hal yang bisa kita terapkan yaitu: Tujuan pembelajaran harus jelas bagi guru dan murid, diperlukan strategi guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, manajemen kelas yang efektif, dan tentu adanya penilaian yang berkelanjutan.

Pembelajaran berdiferensiasi tentu sejalan dengan tumbuhnya disiplin positif, karena Ketika proses pembelajaran berdiferensiasi berlangsung, maka terpenuhilah kebutuhan dasar anak, yang berdampak pada lahirnya motivasi internal hingga terwujudnya budaya positif.

 

Sabtu, 13 Juni 2020

“Training of Trainer Guru Inovatif Angkatan 2020” Provinsi Aceh

Saatnya Guru Indonesia Berinovasi

Anda Guru? Mari bersiap-siap berinovasi dalam program “Training of Trainer Guru Inovatif Angkatan 2020”

Yang diselenggarakan Microsoft Innovative Educator Fellow dan Microsoft Indonesia
Pertama sekali mendaftar program ini, saya masih bertanya-tanya apa itu microsoft 365?  Fungsinya? kelebihannya? bagaimana memperoleh dan cara menggunakannya? Dan apakah manfaatnya pada saat kebijakan “Belajar dari Rumah” diberlakukan di Negara kita.
Aih pembaca, setelah mengikuti webinar pertama yang diikuti teman-teman se Indonesia, saya merasa bersyukur sudah mendaftar di program Training of Trainer Guru Inovatif Angkatan 2020”ini.
Revolusi 4.0 yang selama ini sering kita dengar gaungnya di berbagai bidang,termasuk bidang pendidikan,benar-benar harus kita terapkan dalam kegiatan pembelajaran kita. Akh, ternyata virus mungil bernama Covid-19 ini memiliki efek positif terhadap pengunaan teknologi dan pemanfaatan informasi komunikasi.
Tambahkan teks
Melalui tekonologi microsoft kita belajar dan mengajar menjadi guru yang inovatif, dan tentunya akan membimbing peserta didik menjadi kreatif.
Syarat Kelulusan Peserta “Training of Trainer Guru Inovatif Angkatan 2020” Provinsi Aceh Di bawah bimbangan Pak Khairuddin:
1.       Hadir di semua webinar, mengisi survey dan me-redeem kode yang diberikan untuk menambah poin dan portofolio Bapak/Ibu.
2.     Mengerjakan tugas praktek, antara lain:
a.    Membuat teams/kelas.
b.    Membuat form dan kuis menggunakan Microsoft Forms
c.      Membuat sebuah Digital Storytelling menggunakan Microsoft Sway
d.    Membuat bahan ajar interaktif  (ppt, doc, dan lainnya)
e.     Batas pengumpulan tugas praktik ini adalah 14 Juni 2020
3.     Mengerjakan sesi belajar mandiri di Microsoft Education Community, dikerjakan sampai 14 Juni 2020
4.    Diseminasi ke rekan kerja atau komunitas lainnya sekurang-kurangnya 20 orang di bulan Juli.

Doakan kami peserta TOT Provinsi Aceh Lulus semua  dan mendapatkan serttifikat trainer dari microsoft.