Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Tengku Marni Adriyah
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2015

JINGGA




Jingga
                                (Perempuan Bernama Ibu)
                                                 

Selasa, 05 November 2013















 Melihat Ayah

Mengingat ayah seperti melihat pelangi: Merah, kuning, hijau, biru dan lembayung. Itu warna yang diciptakan ibu, Za, dan Syi, agar aku bisa mengenal Ayah.
“Menikahlah Li.
“Li mau menikah. Tapi dengan lelaki yang mirip Ayah.”
“Li harus percaya dia jauh lebih baik dari Ayah.”
“Siapa bilang!”
“Li harus percaya Ayah”
* * *
Aku adalah kelopak yang berjatuhan saat angin mengetuk, Rapuh. Tapi Ayah selalu bisa kembali menjadikan aku kuntum. Harum dan kokoh. Tak ada lelaki sehebat Ayah. Ia selalu berlari, memeluk lukaku, lalu mengusap air mataku.
“Li sudah jatuh, berarti sebentar lagi, Li sudah bisa naik sepeda,” Isakku menguap. Kuambil sepeda yang lebih tinggi dari tubuhku. Kulihat Ayah, aku yakin. Rodanya berputar 2 kali, 5 kali, 10 kali. Ayah lihat, kakiku tidak menyentuh tanah. Aku pandai, Ayah, Ayah, aku bisa. Ayah…. aku jatuh lagi lalu Ayah mengobati lukaku, memelukku.
“Li sudah hampir bisa. Nanti kalau udah bisa, Li bonceng Ibu ya.”
Aku bangun lagi, kukayuh pedalnya  pelan….pelan….pelan. Perih di lututku memelas minta perhatian.
“Ayo, Li jangan takut, Ayah pegang dari belakang,”
“Bisa, Bisa. Aku sudah bisa Yah,” Tapi sampai aku besar, Ayah tak pernah melepaskan pegangannya.
“Ayah takut Ibu dan Li jatuh.”
Tidak ada lelaki sehebat Ayah. Ia selalu datang ke kamarku, saat rimbun bambu jepang di halaman samping berdesir dan malam menghadiahiku suara-suara aneh. Belum lagi angin yang merambat mulai dari tepi jendela, dinding, lantai, kemana saja. Tempat yang dianggapnya membutuhkan kedamaian.
“Bu!” Aku memanggil Ibu, terdenggar suara langkah.
“Sstt…., Ayah disini,”
“Li takut Yah.”
“Itu cuma suara daun dan jangkrik.”
“Li tidur lagi ya, Ibu juga sedang tidur. Kasihan, ibu capek.” Aku mengangguk di lengan Ayah, aku selalu bisa membaringkan mimpi-mimpiku. Hangat. Ketika aku bangun, mimpi mengomel pelan. Ia benci pada siang, sama seperti aku yang begitu membenci perpisahan.
“Lihat,” waktu itu senja turun, aku dan ayah duduk berdampingan di atas bukit kecil belakang rumah.
“Li tau itu apa?” Ayah menunjuk lingkaran kusam yang terlukis di langit. Sementara jauh di sisi lain, pipi langit menawarkan semburat oranye, warna yang selalu hidup.
“Itu namanya bintang sore,” lanjut Ayah sembari menarikku ke pangkuannya.
“Tapi Yah, Ayah bilang bintang keluarnya malam-malam,”
Ayah tersenyum menatapku.
“Cuma sebutannya, sebenarnya itu bukan bintang. Tapi planet venus.” Jawab Ayah mengobati rasa penasaranku. Aku makin tidak mengerti, aku lebih suka bintang yang keluar malam hari, dan Ayah selalu bisa mengenali bintang-bintang itu. Ursa mayor, cerus, orion, satu hal yang sampai saat ini masih belum bisa kulakukan. Tapi, aku sudah mengerti tentang bintang sore, planet Venus. Planet yang paling dekat dengan bumi sering terlihat sore atau pagi hari, bila atsmosfer sedang berbaik hati. Orang-orang lebih sering menyebutnya bintang kejora.
“Itu planet Venus.” Kataku pada Ibu dan Za, dan Za langsung bangun dari duduknya, berdiri di hadapanku. Aku tak suka dengan tatapannya.

Malamnya ibu menemaniku tidur, tanpa dongeng. malam-malam bersama Ibu adalah belajar menghafal doa pengantar tidur. Tapi malam ini Ibu tidak mengajakku berdoa.
“Li, Ibu mau tanya. Li tau dari mana planet Venus?”
“Ayah.” Jawabku cepat. Ibu membelakangiku, kulihat lagi, Ibu mengucek-ucek matanya. Kata Ibu, bantal di tempat tidurku banyak debu. Kubaca doa sendiri, tiga kali. Untuk ibu juga, mungkin tadi ibu lupa.

Awan alto cumulus hadir pagi ini. Putih, kecil dan bergumpal, awan mimpi.  Aku berjalan mengikuti Ayah. Gerombolan embun duduk manja di pucuk – pucuk daun, berbinar. Sok anggun. Padahal tersenggol belalang sedikit saja, satu, dua, bahkan semua dari mereka akan meluncur bebas di sela-sela rumput.
“Jangan dipetik Li!” Kata Ayah menoleh ke belakang. Ketika langkahku terhenti dan tanganku bersiap–siap menyambar daun keladi.
“Nanti gatal.” Lanjutnya sambil berjalan.
Setengah berlari, kukejar Ayah. Aku senang ke ladang. Duduk di pematang, meniup terompet yang dibuat Ayah dari daun kelapa, kadang juga dari batang padi. Panggil angin, kata Ayah. Aku akan meniup terompetku kuat-kuat, sampai pipiku seperti akan meletus. Angin datang, berjingkat. Aku senang, aku berhasil mengundangnya. Pemahaman yang indah. Sekarang aku baru tahu, angin bukan datang karena suara terompetku. Tapi angin selalu bergerak ke tempat yang tekanan udaranya lebih rendah. Sementara itu, tangan Ayah, sekali–sekali menggoyang tali yang sudah dipasang kaleng susu bekas. Brurrr….., burung pipit menjauh. Cuma sebentar, sambil menunggu Ayah lengah, mereka main alip berondok di pohon  mangga tok Gelang, pemilik ladang sebelah

Sekolah. Ibu memakaikan aku baju putih dan rok merah. Kata Ibu–ibu lain di sekolah, aku hebat. Ibu tidak pernah menungguiku.
“Ibu harus ke ladang, Li berani kan sendiri?” Bujuk Ibu sambil memakaikan dasiku. Aku sudah tau Bu, Aku tak pernah takut, selagi Ayah disampingku. Aku suka sekolah. Kata Pak guru, aku pintar seperti Ayah.
“Yah, teman–teman Li jahat, orang itu bilang Li anak yatim.”
Wajah Ayah berubah, aku tidak pernah melihat Ayah begitu. Mirip wajah Ibu, kalau aku berbicara tentang Ayah.
“Nggak, temen–teman Li nggak jahat. Li nggak usah marah, yang penting Li rajin sekolah, jadi juara.” Jawab Ayah membujukku, waktu itu aku mogok menulis angka satu sampai sepuluh. Aku tidak tahu apa itu anak yatim. Za bilang, anak yang tidak punya Ayah. Tapi, aku punya Ayah. Ini rahasia kami berdua, Ibu, Za, dan Syi pun tidak tahu. Aku juara satu, Ayah membuatkanku mobil-mobilan dari batang pisang.

Hari ini semua sibuk. Bang Syi duduk, di atas bantal besar yang cantik.  Pakai baju teluk belanga. Bang Syi menangis, waktu Ibu siran pakai beras dan bertih. Ibu juga menangis. Ibu memang sering menangis, tapi Ibu bukan cengeng. Kata Ayah: Ibu harus menangis, biar Ibu bisa tersenyum di depan kami.
Kalau bang Syi, hebat. Aku ingat dia menangis cuma tiga kali. Waktu minta mobil mainan yang besar, Ibu sakit, dan sekarang. Bang Syi tidak boleh cenggeng.dia ingin menjaga aku, Ibu, dan Za. 
* * *
Usia tanpa berencana, membuat aku dan Ayah jarang bercerita. Aku jadi bunga, pura-pura kokoh. Aku harus sekuat Ibu. Tanggis bagiku ruang-ruang yang selalu dipenuhi kekalahan.
Ayahku adalah lelaki hebat. Tempat kesah tertumpah tanpa sisa. Lalu asa menyisip pada lempengan doa, yang ia bacakan untukku, Ibu, Za, dan Syi. Ia masih datang, tapi tak bisa lama. Ia selalu hadir, setiap aku tak mampu berkata, aku kuat. Dan ia akan memelukku ”Li, anak Ayah yang kuat.”

Ia adalah telaga. Disana rindu dan cinta bermuara. Lewat figura-figura tua ia bercerita, pada Ibu, Za, dan Syi. Tentang setiap petang yang selalu mereka kayuh dengan tawa, mengelilingi jalan-jalan kampung, Syi selalu merasa bangga duduk di atas tangki kereta. Ia merasa, ia adalah garuda. Ada juga fajar merekah, mereka tertidur di pangkuan Ayah, dan Ayah akan terus menyiram doa.
Aku memang tak punya semua cerita tentang itu. Karna Ayah adalah lelaki yang menyelinap ke rahim Ibu. Mengajakku berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti, dan karena keterbatasanku. Aku tak mampu mengenalinya. Tapi, aku lebih beruntung dari Ibu, Za, dan Syi. Karan aku punya cerita tentang pelagi, planet venus, bintang, gerimis. Aku punya lebih banyak lagi

Melihat Ayah seperti memahami pelangi. Merah, kuning, hujau, biru dan lembayung. Itu warna yang diciptakan ibu, Za, dan Syi, agar aku bisa mengenal Ayah. Mereka tidak pernah tahu, warna pelangi ada yang tak mampu mereka lihat. Inframerah dan ultraviolet. Itulah warna Ayah ”bagiku”.

”Aku akan menikah, Yah.biar aku bisa memandangmu, bersamanya.”

Jumat, 15 Maret 2013

Perempuan Tanpa Kain Basahan


 

Perempuan Tanpa Kain Basahan

Tengku  Marni Adriyah

            Ada perempuan selalu meliuk di tepi perigi berlampu sinar bulan. Ia kibaskan rambut bergelombang. Meraba dahi hingga batas punggung. Tubuhnya kuning pendar, mungkin karena langit malam begitu terang. Kadang putih kelam, bila mendung anggunkan keberadaan.

Rabu, 20 Februari 2013

Menunggu Yawan


Menunggu Yawan

Cerpen Tengku Marni Adriyah





24 April 1998

            Aku melihatnya di pinggir sungai. Dia sudah 16 tahun. Menarik. Hari ini ia mengenakan rok pendek warna salam, atasannya kaos putih—motif bunga mawar di bagian atas dada kanannya. Rambut sebahu itu berlomba menciumi wajahnya, oleh ulah angin. Ia menatapku sekali-sekali, tersenyum. Ge-er, pikirku. Di sampingku ada Dadang. Aku yakin walau kakinya bercumbu air, matanya tak henti menikmati kehadiran Kee.
            Kee satu kampung denganku. Hanya sejak ia berumur 6 tahun ia sekolah di kota lain. Agak jauh memang, karena itu cuma setahun sekali ia pulang, lebaran Aidil Fitri. Entah kanapa kepulangannya kali ini membuat mataku jadi berselimut kabut. Sungguh aneh, aku tidak pernah mengalaminya. 
“Wan, aku rase makin bepase aje si Kee.”  Jantungku berdenyut melebihi jatah normal. Sungguh, aku tak ingin Dadang tahu semua ini.
Iye,” aku coba acuh. “ Aku rase-nya galak sama die.”
Aih, sepertinya kali ini aliran darahku tersendat. Kee telah memetik hatiku. Walau aku tak pernah tahu entah di sudut mana ia jatuhkan. Bagaimana ini?
“Tapi Wan, setelah kupike-pike rasenye die cadek ndak same aku. Mane-lah mungkin die ndak, aku ne buruk kali mungkin die keleh.”
“Usah kate giye, hati urang e cadek sape peh yang tahu,”   
“Udah tahu aku Wan, maleh aku mengharapkan mukzizat. Wan, die lebih cocok same engko, serasi. Malam kang kite ke rumah die. Cemane?”
 Apa yang harus kukatakan, Kee. Aku seperti mendapat undian jutaan sekaligus akan dihukum pancung nanti malam.

Jumat, 08 Februari 2013

Jingga di Tepi subuh




Jingga di tepi Subuh
  1. Cerpen Tengku Marni Adriyah

Pulanglah kekasih. Tapi ingat, jangan hanya ketika bintang bertamu. Pulanglah sekali-sekali 
 saat embun menguap, kau tahu, saat itu aku meringkuk menahan rindu.
Subuh baru sampai. Matahari saja masih ketinggalan di ujung barat. Perempuan itu bergegas membuka pintu. Azan memanggilnya di beranda. Ia berharap, selesai salat, Ben sudah sampai.
Selesai tilawah, ia buka semua jendela. Ben belum juga tiba, ia mungkin agak telat. Diseduhnya kopi, manis agak pahit. Ia tersenyum. Seperti kisah hidupku. Masih ada waktu, Ben pasti senang. Kalau ia pulang, di atas meja makan ada segelas kopi dan sepiring nasi goreng dibungkus telur dadar. Nasi goreng demam, julukan Ben. Lalu ia pasti akan berkata, kau adalah sosok yang diidamkan semua lelaki.