Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Menunggu Yawan - Tengku Marni Adriyah

Rabu, 20 Februari 2013

Menunggu Yawan


Menunggu Yawan

Cerpen Tengku Marni Adriyah





24 April 1998

            Aku melihatnya di pinggir sungai. Dia sudah 16 tahun. Menarik. Hari ini ia mengenakan rok pendek warna salam, atasannya kaos putih—motif bunga mawar di bagian atas dada kanannya. Rambut sebahu itu berlomba menciumi wajahnya, oleh ulah angin. Ia menatapku sekali-sekali, tersenyum. Ge-er, pikirku. Di sampingku ada Dadang. Aku yakin walau kakinya bercumbu air, matanya tak henti menikmati kehadiran Kee.
            Kee satu kampung denganku. Hanya sejak ia berumur 6 tahun ia sekolah di kota lain. Agak jauh memang, karena itu cuma setahun sekali ia pulang, lebaran Aidil Fitri. Entah kanapa kepulangannya kali ini membuat mataku jadi berselimut kabut. Sungguh aneh, aku tidak pernah mengalaminya. 
“Wan, aku rase makin bepase aje si Kee.”  Jantungku berdenyut melebihi jatah normal. Sungguh, aku tak ingin Dadang tahu semua ini.
Iye,” aku coba acuh. “ Aku rase-nya galak sama die.”
Aih, sepertinya kali ini aliran darahku tersendat. Kee telah memetik hatiku. Walau aku tak pernah tahu entah di sudut mana ia jatuhkan. Bagaimana ini?
“Tapi Wan, setelah kupike-pike rasenye die cadek ndak same aku. Mane-lah mungkin die ndak, aku ne buruk kali mungkin die keleh.”
“Usah kate giye, hati urang e cadek sape peh yang tahu,”   
“Udah tahu aku Wan, maleh aku mengharapkan mukzizat. Wan, die lebih cocok same engko, serasi. Malam kang kite ke rumah die. Cemane?”
 Apa yang harus kukatakan, Kee. Aku seperti mendapat undian jutaan sekaligus akan dihukum pancung nanti malam.


19 Maret 1999

            Heri terlelap di sampingku, pelan kubuka dompetnya. Ada tiga foto dengan tiga orang yang sama. Rindu memaksaku untuk mencuri. Tak sopan memang.

24 Februari 2000
            Apa kabarmu, Kee? Kulihat kau memakai selendang merah jambu, berada di shaf paling depan. Tentu saja anak anak kampung kita berbisik-bisik melihatmu. “Makin bepase aje,” kudenggar Iin berbisik. Tidak berlebihan rasanya kalau kubilang: pagi ini telah turun putri bulan, usiamu 19 tahun. Kau menatapku, Kee. Perasaan apa ini? Aku berusaha menolaknya, sungguh. Pengecutkah aku, Kee? Jika sampai detik ini masih belum pernah menyapamu. Dua tahun lewat, Heri, adikku sudah lebih dulu mengetuk pintu rumahmu.

11 Januari 2001

            Assalamualaikum Wr.Wb.
            Bang, maaf kalau Kee sedikit meminta waktu Abang. Hanya sekadar memendar rasa, tanpa bermaksud untuk menagihnya. Seharusnya perempuan menunggu kan? Tapi menunggu bagiku adalah selalu menerka apakah ada celah di hati untuk sekadar berkenalan. Tak berani Kee lancang merengkuhnya, apalagi memilikinya. Pada 24 April 1998, Kee coba mengirim salam melalui tatapan. Tapi Kee lupa bahwa tatapan hanya bisa diterjemahkan untuk dua orang yang hatinya telah ditakdirkan bertaut. Ternyata itu bukan kita. Akhirnya Kee hanya bisa memeluk mimpi karena asa telah meleleh dari sela-sela jari.
Tak perlu khawatir Bang, hujan pasti akan selalu menghadirkan jawaban. Kee berharap malam ini hujan turun walau Abang tak pernah mengirim jawabannya. Terima kasih untuk rasa yang indah, untuk rindu yang sakit. Bagi Kee Abang mendekati sempurna dan Kee terlalu biasa. Abang terlalu indah untuk Kee kenal. Tapi mungkin tidak untuk Kee miliki.
                                                                                                                                    Wassalam
                                                                                                                                          Kee
Kee, membaca suratmu seperti menerima beribu-ribu tusukan jarum. Aku tak tahu lagi bagian mana yang sakit.  Apa ini yang disebut: cinta datang pada waktu dan orang yang salah. Akh, Kee, begitukah rumitnya cinta.
 Tak usah khawatir Kee, telah kupadu keberanian mulai dari tepi sungai itu. Suatu hari nanti, aku pasti akan berdiri di depan mu. “Kee, aku pun mencintaimu, sangat.”

22 Desember 2002

            Kee berjalan menghindariku. Sejak surat itu ia sepertinya malu, bahkan hanya untuk sekadar menatap mataku. Kini, ia jadi perempuan dewasa, makin menarik. Akh, andai saja aku mampu meminangnya. Kee akan terus menemaniku menghabiskan waktu. Tunggu Kee, tunggu aku punya keberanian. Bersabarlah Kee, karena ke mana pun aku melangkah, kau adalah perhentian terakhirku.

13 November 2004

            Oka Keumala Syarif, aku mencintaimu hari ini, esok, dan selamanya.
                                                                                                                                    Yawan
16 0ktober 2005
            Aku Kee, perempuan yang menunggu cinta pertamanya datang. Beribu kali bumi berotasi, tapi ia masih jauh dari pandanganku. Namanya Yawan, lelaki yang tak pernah bicara, tapi begitu banyak kesan yang ia tinggalkan. Lewat isyarat matanya, aku belajar mencintai, mencoba bersabar, tapi yang paling sakit aku belajar untuk tidak  memiliki.
Begitu mudah orang mengumbar kalimat: cinta tak harus saling memiliki. Tapi mereka tak tahu rasanya sakit. Hingga begitu lama aku menunggu, aku tak pernah tahu apakah Yawan akan datang menemuiku. Terlalu lama memang, tapi aku masih mampu bertahan. Berharap suatu hari nanti ada tempat untukku di hatinya. Mimpi, Kee. Aku tahu aku cuma bermimpi. Yawan semakin jauh, aku takut mengejarnya. Takut ia akan lari dan aku tak bisa lagi menatapnya.
            Sampai  detik ini aku sadar, ternyata hati Yawan tak pernah menoleh kepadaku. Sebulan lagi ia pergi. Terlarang bagiku untuk mencintainya lagi.

  13 November 2005
            Hingga besok hari pernikahanku, Kee, keberanian itu belum juga terkumpul. Dan aku tak punya waktu lagi untuk mengungkapkannya. Balasan surat untukmu kutanam di sini, di tepi sungai tempat aku melihatmu tersenyum. Tempat kau panahkan cinta tepat mengenai hatiku.
Ingat Kee, aku mencintaimu, sesempurna aku tak mampu memilikimu.
             Medan, 2008
Bahasa Aceh Tamiang
bepase            : cantik
galak              : suka
cadek              : tidak
keleh               : lihat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar