Menunggu Yawan
Cerpen
Tengku Marni Adriyah
24 April 1998
Aku melihatnya di pinggir sungai.
Dia sudah 16 tahun. Menarik. Hari ini ia mengenakan rok pendek warna salam, atasannya
kaos putih—motif bunga mawar di bagian atas dada kanannya. Rambut sebahu itu
berlomba menciumi wajahnya, oleh ulah angin. Ia menatapku sekali-sekali,
tersenyum. Ge-er, pikirku. Di sampingku ada Dadang. Aku yakin walau kakinya
bercumbu air, matanya tak henti menikmati kehadiran Kee.
Kee satu kampung denganku. Hanya
sejak ia berumur 6 tahun ia sekolah di kota
lain. Agak jauh memang, karena itu cuma setahun sekali ia pulang, lebaran Aidil
Fitri. Entah kanapa kepulangannya kali ini membuat mataku
jadi berselimut kabut. Sungguh aneh, aku tidak pernah mengalaminya.
“Wan, aku rase
makin bepase aje si Kee.” Jantungku berdenyut melebihi jatah normal. Sungguh,
aku tak ingin Dadang tahu semua ini.
“Iye,”
aku coba acuh. “ Aku rase-nya galak sama die.”
Aih, sepertinya kali ini aliran darahku
tersendat. Kee telah memetik hatiku. Walau aku tak
pernah tahu entah di sudut mana ia jatuhkan. Bagaimana ini?
“Tapi Wan, setelah kupike-pike rasenye die cadek
ndak same aku. Mane-lah mungkin die ndak, aku ne
buruk kali mungkin die keleh.”
“Usah kate
giye, hati urang e cadek sape peh
yang tahu,”
“Udah tahu aku Wan, maleh aku mengharapkan mukzizat. Wan, die lebih
cocok same engko, serasi. Malam kang kite ke rumah die. Cemane?”
Apa yang harus kukatakan, Kee. Aku seperti mendapat undian jutaan sekaligus akan dihukum pancung nanti
malam.
19 Maret 1999
Heri terlelap di
sampingku, pelan kubuka dompetnya. Ada tiga foto dengan tiga orang yang sama.
Rindu memaksaku untuk mencuri. Tak sopan memang.
24 Februari 2000
Apa kabarmu, Kee?
Kulihat kau memakai selendang merah jambu, berada di shaf paling depan. Tentu
saja anak anak kampung kita berbisik-bisik melihatmu. “Makin bepase aje,” kudenggar Iin berbisik.
Tidak berlebihan rasanya kalau kubilang: pagi ini telah turun putri bulan,
usiamu 19 tahun. Kau menatapku, Kee. Perasaan
apa ini? Aku berusaha menolaknya, sungguh. Pengecutkah aku, Kee? Jika sampai
detik ini masih belum pernah menyapamu. Dua tahun lewat, Heri, adikku sudah
lebih dulu mengetuk pintu rumahmu.
11 Januari 2001
Assalamualaikum Wr.Wb.
Bang, maaf kalau Kee sedikit meminta waktu Abang. Hanya sekadar memendar rasa,
tanpa bermaksud untuk menagihnya. Seharusnya perempuan menunggu kan? Tapi
menunggu bagiku adalah selalu menerka apakah ada celah di hati untuk sekadar
berkenalan. Tak berani Kee lancang merengkuhnya, apalagi memilikinya. Pada 24
April 1998, Kee coba mengirim salam melalui tatapan. Tapi Kee lupa bahwa
tatapan hanya bisa diterjemahkan untuk dua orang yang hatinya telah ditakdirkan
bertaut. Ternyata itu bukan kita. Akhirnya Kee hanya bisa memeluk mimpi karena asa
telah meleleh dari sela-sela jari.
Tak perlu
khawatir Bang, hujan pasti akan selalu menghadirkan jawaban. Kee berharap malam
ini hujan turun walau Abang tak pernah mengirim jawabannya. Terima kasih untuk
rasa yang indah, untuk rindu yang sakit. Bagi Kee Abang mendekati sempurna dan
Kee terlalu biasa. Abang terlalu indah untuk Kee kenal. Tapi mungkin tidak
untuk Kee miliki.
Wassalam
Kee
Kee, membaca suratmu seperti menerima beribu-ribu
tusukan jarum. Aku tak tahu lagi bagian mana yang sakit. Apa ini yang disebut: cinta datang pada waktu
dan orang yang salah. Akh, Kee, begitukah rumitnya
cinta.
Tak usah
khawatir Kee, telah kupadu keberanian mulai dari tepi sungai itu. Suatu hari nanti, aku pasti akan berdiri di depan mu. “Kee, aku pun
mencintaimu, sangat.”
22 Desember 2002
Kee berjalan
menghindariku. Sejak surat itu ia sepertinya malu, bahkan hanya untuk sekadar
menatap mataku. Kini, ia jadi perempuan dewasa, makin menarik. Akh, andai saja
aku mampu meminangnya. Kee akan terus menemaniku menghabiskan waktu. Tunggu
Kee, tunggu aku punya keberanian. Bersabarlah Kee, karena ke mana pun aku
melangkah, kau adalah perhentian terakhirku.
13 November 2004
Oka Keumala Syarif, aku mencintaimu hari ini, esok, dan selamanya.
Yawan
16 0ktober 2005
Aku Kee, perempuan yang
menunggu cinta pertamanya datang. Beribu kali bumi berotasi, tapi ia masih jauh
dari pandanganku. Namanya Yawan, lelaki yang tak pernah bicara, tapi begitu
banyak kesan yang ia tinggalkan. Lewat isyarat matanya, aku belajar mencintai,
mencoba bersabar, tapi yang paling sakit aku belajar untuk tidak memiliki.
Begitu mudah orang mengumbar kalimat: cinta tak
harus saling memiliki. Tapi mereka tak tahu rasanya sakit. Hingga begitu lama
aku menunggu, aku tak pernah tahu apakah Yawan akan datang menemuiku. Terlalu
lama memang, tapi aku masih mampu bertahan. Berharap suatu hari nanti ada
tempat untukku di hatinya. Mimpi, Kee. Aku tahu aku cuma bermimpi. Yawan
semakin jauh, aku takut mengejarnya. Takut ia akan lari dan aku tak bisa lagi
menatapnya.
Sampai detik ini aku sadar, ternyata hati Yawan tak
pernah menoleh kepadaku. Sebulan lagi ia pergi. Terlarang bagiku untuk
mencintainya lagi.
13 November 2005
Hingga besok hari
pernikahanku, Kee, keberanian itu belum juga terkumpul. Dan aku tak punya waktu
lagi untuk mengungkapkannya. Balasan surat untukmu kutanam di sini, di tepi
sungai tempat aku melihatmu tersenyum. Tempat kau panahkan cinta tepat mengenai
hatiku.
Ingat Kee, aku mencintaimu, sesempurna aku tak
mampu memilikimu.
Medan, 2008
Bahasa Aceh Tamiang
bepase : cantik
galak : suka
cadek : tidak
keleh : lihat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar