Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
JINGGA - Tengku Marni Adriyah

Rabu, 29 April 2015

JINGGA




Jingga
                                (Perempuan Bernama Ibu)
                                                 


Mengenal dan memilikimu adalah anugerah.Aku malam sepi merangas  dan kau selalu temani aku. Kadang berbilur rupa. Sering juga gemerisik suara. Hatimu warna kaca. Aku begitu sering ikut menangis di dalamnya. Selalu ada yang membuatmu terluka. Karena tatap yang berlomba menusukkan belati pada rapuhmu. Kadang juga lisan bertaring tajam yang memamah kekuatanmu. Kau jadi begitu penakut, Jingga. Bahkan untuk sekedar menatap lurus ke depan semenjak kau miliki dia. ya. Lelaki itu
Padahal dulu orang- orang bilang kau adalah karang. Tegakmu sempurna. Tak oleng meski cercah dan puji memukulimu. Sering hujan panas mengumulimu. Tapi kau tetap karang. Karang yang indah, Senja mana pula yang tak jatuh hati padamu,Jingga. Bahkan dia. Ya. Lelaki itu
Kau jadi keping berserakan. Ketika lelaki itu meminangmu menjadi istrinya.Kalian begitu sempurna. Kau lari menjauh. Tak ingin ada senja yang salah mencintaimu. Kadang kau sembunyi di tirai malam. Pernah juga menyamar jadi siang yang garang. Tapi kau tetap Jingga. Dan dia selalu dapat menemuimu. Kau lelah berlari, Jingga. Kini kau jadi sering bercumbu pada rasa bersalah. Cinta memang luar biasa, Jingga. Bukan kau yang menanam tanggis Kau hanya menuainya.( Gana)
-***-
               Perempuan itu telah merebut suamiku, ayah dari dua anak-anakku. Akh, Mas Pras. tidak pernah sekalipun ia melukai hatiku. Dari semenjak kami pacaran hingga tujuh tahun pernikahan kami. Mas Pras adalah lelaki sempurna. Dia tak pernah berkomentar walau aku bersikap sedikit tegas padanya dan anak-anak.
               Entah dimana dia kenal perempuan itu. Yang aku dengar dia hanya anak seorang kuli bangunan di tempat Mas Pras bekerja. Sebagai seorang kontraktor, Mas Pras harus sering mengawasi pekerjaan anak buahnya.  Mungkin perempuan itu mati-matian mengoda Mas Pras.  Mas Pras ku akhirnya terjebak.
Malam itu. ia memelukku. Lama sekali. Tidak tau mengapa hatiku tiba-tiba saja berkata aku akan kehilangan suamiku.
               “ Aku tidak akan meninggalkanmu” janji Mas Pras. Tapi malan itu dia ambil separuh nyawaku dengan permintaannya.” Aku tidak pernah meminta apa-apa kan?” tanyanya. Aku luruh dalam isak tahan. Harga diriku sebagai wanita tinggalkan Mas Pras dalam kebingunggan. Pada sajadah tanggisku pecah. Aku Patah.
               Sepuluh tahun setelah pernikahan kedua Mas Pras. Aku mampu bangkit kembali. Meski agak goyang, terlebih ketika aku bertemu istri kedua Mas Pras dan anaknya. Baru pertama memang, tapi pertemuan itu menghancurkan kembali kebahagian yang bertahun-tahun kubangun. Aku merasa jijik melihat perempuan itu. perempuan yang telah merebut suamiku dengan segala bujuknya. Kekayaan. Mungkin itu alasan utamanya. Dia tidak tau rasanya sakit. Tidak pernah tau. Karna dia bukan aku. ( Roza )
-***-
               Menikahi Roza adalah kebahagian terbesar ketika usiaku 30 tahun. Aku jadi lelaki sempurna. Ratana. Putra pertama kami lahir. Roza memang kekasihku mulai bangku kuliah. Sifatnya yang keras, membuatku jatuh hati padanya. Aku tidak peduli. Meski ibuku pernah berkata “ Sifat keras itu nduk, tidak akan hilang, walau kalian sudah berumah tangga. Ibu takut, kamu itu nantinya jadi boneka oleh istrimu sendiri.”
               Lima tahun usia perkawinan kami masih bisa kutolerir semua kebiasaan istriku. Mulai dari jadwal pulang kerja yang tidak boleh telat. warna pakaian yang disesuaikan setiap harinya. Bahkan makanan favorit yang tidak boleh disentuh. Roza memang wanita hebat. Tidak diizinkannya aku untuk melawan, bahkan aku tidak berani untuk sekedar menantang matanya. Walau begitu, tidak ada sedikitpun niatku untuk menduakan Roza apalagi meninggalkannya.
               Hingga aku bertemu, Jingga. Ya. Jingga. Perempuan dengan alis mata bertaut. Entah kenapa aku jadi sering memikirkannya. Ia lari menjauh. Makin jauh. Tiba- tiba saja aku tidak inginkan apa-apa lagi. Aku hanya ingin Jingga. Terus kukejar. Akupun memiliki dia.
 ( Prasasti)
-***-
               Sudah mereka tulis berlembar-lembar luka. Tapi mengapa tinta tanggis ini masih belum habis. Apakah menikah aib bagiku. Hingga cerca terus menguratkan kukunya pada tiap hari yang kulewati. Demi Tuhan. Aku tidak merebut siapa-siapa. Tuduhan murahan itu terus mengelayutiku. Menjadi bayanganku. Sepuluh tahun menjadi tumpuan cacian. Aku juga manusia Mas Pras. Sakitku punya batas. Selama ini aku coba bertahan demi Gana, anak kita. Tapi aku takut Gana pun akan hidup dalam tanggis. Aku mencintai kalian berdua. Tapi cukuplah aku miliki Gana. Pulanglah pada Roza. Aku tidak ingin apa-apa. Gana bagiku sudah lebih dari cukup. ( Jingga )
-***-
               Ibu menjadi anakmu melebihi kebahagian apapun dalam hidup ini. Aku tidak pernah malu menjadi anak dari istri kedua. Ibu, Bukan kau yang menanam tanggis, kau hanya menuainya. Kita bukan hanya mampu melawan tangis bu. Tapi kita akan menjadi temannya. Hidup tanpa ayah. Kupikir-pikir boleh juga.(Gana)
                



Miss u Mom, 02 April 2012
Tengku Marni Adriyah





Tidak ada komentar:

Posting Komentar