Jingga
(Perempuan
Bernama Ibu)
Mengenal dan memilikimu adalah anugerah.Aku
malam sepi merangas dan kau selalu
temani aku. Kadang berbilur rupa. Sering juga gemerisik suara. Hatimu warna
kaca. Aku begitu sering ikut menangis di dalamnya. Selalu ada yang membuatmu
terluka. Karena tatap yang berlomba menusukkan belati pada rapuhmu. Kadang juga
lisan bertaring tajam yang memamah kekuatanmu. Kau jadi begitu penakut, Jingga.
Bahkan untuk sekedar menatap lurus ke depan semenjak kau miliki dia. ya. Lelaki
itu
Padahal dulu orang- orang bilang kau adalah
karang. Tegakmu sempurna. Tak oleng meski cercah dan puji memukulimu. Sering
hujan panas mengumulimu. Tapi kau tetap karang. Karang yang indah, Senja mana pula yang tak jatuh hati
padamu,Jingga. Bahkan dia. Ya. Lelaki itu
Kau jadi keping berserakan. Ketika lelaki itu
meminangmu menjadi istrinya.Kalian begitu sempurna. Kau lari menjauh. Tak ingin
ada senja yang salah mencintaimu. Kadang kau sembunyi di tirai malam. Pernah
juga menyamar jadi siang yang garang. Tapi kau tetap Jingga. Dan dia selalu
dapat menemuimu. Kau lelah berlari, Jingga. Kini kau jadi sering bercumbu pada
rasa bersalah. Cinta memang luar biasa, Jingga. Bukan kau yang menanam tanggis
Kau hanya menuainya.( Gana)
-***-
Perempuan
itu telah merebut suamiku, ayah dari dua anak-anakku. Akh, Mas Pras. tidak
pernah sekalipun ia melukai hatiku. Dari semenjak kami pacaran hingga tujuh
tahun pernikahan kami. Mas Pras adalah lelaki sempurna. Dia tak pernah
berkomentar walau aku bersikap sedikit tegas padanya dan anak-anak.
Entah
dimana dia kenal perempuan itu. Yang aku dengar dia hanya anak seorang kuli
bangunan di tempat Mas Pras bekerja. Sebagai seorang kontraktor, Mas Pras harus
sering mengawasi pekerjaan anak buahnya.
Mungkin perempuan itu mati-matian mengoda Mas Pras. Mas Pras ku akhirnya terjebak.
Malam itu. ia memelukku. Lama sekali. Tidak
tau mengapa hatiku tiba-tiba saja berkata aku akan kehilangan suamiku.
“
Aku tidak akan meninggalkanmu” janji Mas Pras. Tapi malan itu dia ambil separuh
nyawaku dengan permintaannya.” Aku tidak pernah meminta apa-apa kan?” tanyanya.
Aku luruh dalam isak tahan. Harga diriku sebagai wanita tinggalkan Mas Pras
dalam kebingunggan. Pada sajadah tanggisku pecah. Aku Patah.
Sepuluh
tahun setelah pernikahan kedua Mas Pras. Aku mampu bangkit kembali. Meski agak
goyang, terlebih ketika aku bertemu istri kedua Mas Pras dan anaknya. Baru
pertama memang, tapi pertemuan itu menghancurkan kembali kebahagian yang
bertahun-tahun kubangun. Aku merasa jijik melihat perempuan itu. perempuan yang
telah merebut suamiku dengan segala bujuknya. Kekayaan. Mungkin itu alasan
utamanya. Dia tidak tau rasanya sakit. Tidak pernah tau. Karna dia bukan aku. (
Roza )
-***-
Menikahi
Roza adalah kebahagian terbesar ketika usiaku 30 tahun. Aku jadi lelaki
sempurna. Ratana. Putra pertama kami lahir. Roza memang kekasihku mulai bangku
kuliah. Sifatnya yang keras, membuatku jatuh hati padanya. Aku tidak peduli.
Meski ibuku pernah berkata “ Sifat keras itu nduk, tidak akan hilang, walau
kalian sudah berumah tangga. Ibu takut, kamu itu nantinya jadi boneka oleh
istrimu sendiri.”
Lima
tahun usia perkawinan kami masih bisa kutolerir semua kebiasaan istriku. Mulai
dari jadwal pulang kerja yang tidak boleh telat. warna pakaian yang disesuaikan
setiap harinya. Bahkan makanan favorit yang tidak boleh disentuh. Roza memang
wanita hebat. Tidak diizinkannya aku untuk melawan, bahkan aku tidak berani
untuk sekedar menantang matanya. Walau begitu, tidak ada sedikitpun niatku
untuk menduakan Roza apalagi meninggalkannya.
Hingga
aku bertemu, Jingga. Ya. Jingga. Perempuan dengan alis mata bertaut. Entah
kenapa aku jadi sering memikirkannya. Ia lari menjauh. Makin jauh. Tiba- tiba saja aku tidak inginkan apa-apa lagi.
Aku hanya ingin Jingga. Terus kukejar. Akupun memiliki dia.
(
Prasasti)
-***-
Sudah mereka tulis
berlembar-lembar luka. Tapi mengapa tinta tanggis ini masih belum habis. Apakah
menikah aib bagiku. Hingga cerca terus menguratkan kukunya pada
tiap hari yang kulewati. Demi Tuhan. Aku tidak merebut siapa-siapa. Tuduhan
murahan itu terus mengelayutiku. Menjadi bayanganku. Sepuluh tahun menjadi
tumpuan cacian. Aku juga manusia Mas Pras. Sakitku punya batas. Selama ini aku
coba bertahan demi Gana, anak kita. Tapi aku takut Gana pun akan hidup dalam
tanggis. Aku mencintai kalian berdua. Tapi cukuplah aku miliki Gana.
Pulanglah pada Roza. Aku tidak ingin apa-apa. Gana bagiku sudah lebih dari
cukup. ( Jingga )
-***-
Ibu
menjadi anakmu melebihi kebahagian apapun dalam hidup ini. Aku tidak pernah
malu menjadi anak dari istri kedua. Ibu, Bukan kau yang menanam tanggis, kau
hanya menuainya. Kita bukan hanya mampu melawan tangis bu. Tapi kita akan
menjadi temannya. Hidup tanpa ayah. Kupikir-pikir boleh juga.(Gana)
Miss u Mom, 02 April 2012
Tengku Marni Adriyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar