Mutiara
dari Pirak
Oleh: Tengku Marni
Adriyah
Bangsa
yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya! Ungkapan tersebut
merupakan penegasan bahwa apabila suatu bangsa ingin berjaya, maka haruslah
tetap menghargai jasa pahlawannya. Aceh merupakan provinsi yang berada paling
barat nusantara ini. Aceh menjadi begitu istimewa karena selalu menerapkan
pendidikan islam dalam kehidupan formal dan non formal masyarakatnya. Pendidikan
Islam menurut H.M. Thamrin Z adalah pendidikan yang berdasarkan atau sesuai
ajaran Islam. Pendidikan Islam berusaha mencapai keselamatan hidup baik di
dunia maupun di akhirat. Kegiatan pendidikan Islam bahkan masih berlanjut,
karena pada dasarnya hal itu merupakan proses yang tidak pernah selesai.
Pendidikan Islam di Aceh berjalan maju dan mendapat tempat yang terhormat. Hal
ini terjadi karena kerajaan Aceh dipimpinan Sultan dan Ullebalang yang taat pada ajaran Islam. Kerja sama antara penguasa,
ulama, dan rakyat Aceh merupakan lambang kesatuan, kedamaian, dan
kesehjahteraan rakyat Aceh.
Aceh
memiliki posisi strategis karena terletak di pantai barat Selat Malaka, yang
pada masa itu merupakan lintasan perniagaan dunia. Hal ini menjadikan Aceh
incaran bangsa Eropa terutama Belanda dan Inggris. Namun dengan
ditandatanganinya perjanjian London pada 17 Maret 1825; tertera dalam pasal ke
tiga yang intinya menjelaskan bahwa kedua pihak yaitu Belanda dan Inggris tidak
akan mengikat perjanjian (menguasai) wilayah timur (Aceh) untuk kepentingan
salah satunya, karena akan mengakibatkan perniagaan menghadapi hambatan.
Perjanjian London melindungi posisi kedaulatan Aceh pada saat itu. Keadaan berubah
setelah adanya pembukaan Terusan Suez yang berdampak semakin ramainya
bangsa-bangsa asing datang ke dunia timur. Hal ini membuat Belanda mendekati
Inggris, agar menandatangani “Perjanjian Sumatera” pada tanggal 12 November
1871. “Traktat Sumatera” ini menyatakan bahwa Inggris menghapus perhatiannya
atas perluasan kekuasaan Belanda di Pulau Sumatera dan sebagai imbalannya
Inggris mendapat hak seperti Belanda di wilayah Siak dan daerah taklukannya.
Penandatanganan
“Traktat Sumatera” adalah taktik licik Belanda untuk menciptakan “Pax Nenderlandica” yaitu Aceh yang utuh
di bawah payung kekuasaan Belanda. Peperangan secara terbuka dimulai ketika
armada Belanda pimpinan Edelaar Nieuwenhuyzen tiba di pelabuhan kerajaan Aceh
pada tanggal 23 Maret 1870. Kapal mengangkut 3.200 serdadu,168 perwira dan
dipimpin perang Mayor Jenderal H.R.Kohler. Ismail Jakub dalam bukunya yang
berjudul “Tengku Chik Di Tiro” menceritakan bahwa Belanda mengirimi surat
kepada Sultan Aceh yang isinya mengharap agar Sultan bersedia mengakui
kedaulatan Belanda. Namun, Sultan menolak dengan tegas keinginan Belanda
tersebut. Maka pada tanggal 26 Maret 1870, atas nama pemerintah Belanda
mengumumkan ultimatum perang terhadap kerajaan Aceh. Perjuangan yang tak kenal lelah terus dilakukan oleh para pejuang Aceh, mulai dari
Aceh Besar hingga Aceh Timur. Perjuangan ini bukan hanya dilakukan oleh para
pemimpin Aceh, tetapi juga rakyat Aceh. Perlawanan bukan hanya milik kaum
pria, perempuan Aceh juga memiliki
kesempatan dan penghormatan yang sama besar untuk menjadi pejuang. Pendidikan
Islam yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Aceh, memberi kedudukan dan
kehormatan yang mulia untuk perempuan. Itulah sebabnya mengapa di Aceh, kaum
Ibu bisa menjadi Sultanah (Raja), Ullebalang bahkan jabatan-jabatan tinggi
dalam pemerintahan. Perempuan Aceh juga ikut bersama-sama mengangkat senjata
dan menyelipkan rencong di pingangnya. Pendidikan Islam benar-benar telah
menyatu dalam diri masyarakat Aceh, keinginan membela bangsa,dan memusuhi “Kaphe” (sebutan masyarakat Aceh kepada
Belanda), menyebabkan Belanda kesulitan mengalahkan Aceh. Perang Aceh banyak
melahirkan pejuang-pejuang wanita yang rela mengorbankan nyawanya demi agama
dan bangsa.
Cut Nyak Meutia
Cut
Meutia, Kelahiran Pirak (Keureuto, Aceh
Utara) pada tahun 1870. Keempat kakaknya adalah Teuku Cut Berahim,Teuku Cut
Hasan, Teuku Muhammad Syah dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah Uleebalang (pemimpin daerah) dan ibunya
adalah Cut Jah anak Uleebalang Ben Seulemak. Meutia memiliki arti mutiara.
Menurut Zakaria Ahmad dalam bukunya yang berjudul “Cut Nyak Meutia”, Ayahnya Teuku Ben Daud memberikan nama ini
karena Cut Meutia memiliki wajah rupawan dan berkulit putih. Meutia kecil
dibesarkan dengan pendidikan Islam yang kuat. Perlakuan lemah lembut yang
diterima dari orang tua dan kakak-kakaknya tidak menjadikan Meutia bersikap
lemah. Keadaan politik di Aceh yang semakin kritis kerap menjadi pembicaraan di
semua lapisan masyarakat menjadi hal yang sangat mengesankan bagi Meutia.
Apalagi keluarganya termasuk keluarga uleebalang
yang taat kepada agama dan berjanji akan memusuhi Belanda. Meutia memiliki jiwa
pejuang, sekaligus memiliki kepatuhan kepada orang tuanya. Sikap taat beragama
keluarga Teuku Ben daud menjadi sumber kekuatan dalam melawan penjajah Belanda.
Bagi keluarga ini sesuatu yang tidak baik bagi Islam, adalah hal yang tidak
bisa ditawar, termasuk untuk berdamai dengan orang kafir (Belanda). Hal ini
kiranya juga tertanam di hati Cut Meutia sedari ia kecil.
Kecantikan
Cut Meutia membuat Teuku Ben Daud kewalahan menghadapi Seulangke/Teulangke (Utusan)
yang datang untuk meminang Cut Meutia. Hingga akhirnya keluarga Cut Meutia
memutuskan menerima lamaran terakhir
putra Uleebalang Keureuto
yaitu Teuku Syamsarif. Tetapi saying, Teuku Syamsarif adalah bangsawan yang
memiliki hubungan baik dengan Belanda. Hingga akhirnya Teuku Syamsarif diangkat
Belanda menjadi Uleebalang Keureto
dan berganti nama menjadi Teuku Chik Bintara dan Cut Meutia menjadi Cut Nyak
Meutia. Hal ini bukan merupakan kebahagian bagi Cut Nyak Meutia. Kekecewaannya
kepada Teuku Chik Bintara pada awal perkawinan mereka semakin bertambah karena
pengangkatan suaminya. Cut Nyak Meutia membenci sikap suaminya yang selalu
memihak kepada Belanda. Pendidikan Islam yang tertanam pada dri Cut Nyak
Meutia, tidak bisa dirubah oleh siapa pun bahkan oleh suaminya sendiri.
Pernikahan Cut Nyak Meutia pun tidak bertahan lama. Ia beranggapan keselamatan
agama dan bangsanya jauh lebih penting daripada kebahagian pribadinya.
Kecintaannya kepada agama dan bangsanya adalah cerminan akhlak seorang muslim
yang taat.
Pahlawan Wanita
Cut
Nyak Meutia dipulangkan ke rumah orangtuanya di Pirak. Kepulangannya ke rumah
keluarga yang sangat membenci Belanda semakin membuat jiwa pejuang Cut Nyak
Meutia semakin bergelora. Cut nyak Meutia selalu ingin bergerilya bersama
pejuang lainnya. Namun hal ini baru dapat terlaksana setelah ia menikah dengan
Teuku Cut Muhammad, adik dari Teuku Chik Bintara. Meskipun mereka saudara
sekandung, tetapi rupanya mereka memiliki sikap dan pemikiran yang sangat jauh
berbeda. Teuku Cut Muhammad adalah pejuang Aceh yang sangat mencintai bangsanya
dan membenci Belanda. Cut Nyak Meutia selalu mendampingi Teuku Cut Muhammad
ketika bergerilya. Ia bukan hanya bertindak sebagai istri ketika sedang
berperang, tetapi ia menempatkan dirinya sebagai sesama pejuang. Kemampuannya
mengatur taktir serang-mundur dan menempatkan mata-mata, membuat Belanda
kewalahan menghadapi pasukan yang dipimpin oleh pasangan pejuang ini. Cut Nyak
Meutia, Mutiara dari Aceh ini harus diuji kesetiannya kepada bangsa ini lagi
ketika suaminya Teuku Cut Muhammad,
dihukum tembak mati di Lhokseumawe pada 25 Maret 1905. Sebelum Teuku Cut
Muhammad dijatuhi hukuman, ia memberikan pesan kepada Cut Nyak Meutia: “setelah
kepergiannya ia harus menikah dengan Pang Nanggroe, Pang Nanggroe merupakan
tangan kanan Teuku Cut Muhammad”. Kematian suaminya tidak membuat Cut Nyak
Meutia menjadi tidak bersemangat. Bersama putranya Teuku Raja Sabi yang masih
kecil, Cut Nyak Meutia melanjutkan perjuangannya.
Cut
Nyak meutia akhirnya melaksanakan wasiat suaminya untuk menikah dengan Pang
Nanggroe. Ia terus memimpin perjuangan melawan penjajah. Kemenangan dan
kekalahan silih berganti mewarnai perjuangan mereka. Hingga akhirnya Pang
Nangroe terkena tembakan pasukan belanda pada tahun 1910. Pada 25 Oktober 1910
tepat sebulan setelah kematian Pang Nanggroe di Pucok Krueng Peutoe (Hulu
sungai Peuteo), terjadi tembak menembak antara pasukan Belanda dan pasukan Cut
Nyak Meutia. Tiga peluru tepat mengenai dahi Cut Nyak Meutia, dan dua peluru
lainnya bersarang di dadanya. Cut Nyak Meutia, mati syahid membela agama dan bangsanya.
Demikianlah,
sekalipun Cut Nyak Meutia tidak mendapat gelar pahlawan nasional sebelum tahun
1964, ia kadung diberi gelar “pahlawan agama” oleh sebagian besar rakyat
Aceh.
Daftar Pustaka :
1. Ahmad,
Zakaria dkk.2007.Lintas Perjuangan Cut
Nyak Meutia Sosok Pejuang Wanita Aceh, (Banda Aceh:Yayasan Pena)
2. Ismail
Jakup.1960.Tengku Chik Di Tiro (Muhammad
Saman), Pahlawan Besar Dalam Perang Aceh(1881-1891),(Djakarta:Bulan
Bintang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar