Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Perempuan Tanpa Kain Basahan - Tengku Marni Adriyah

Jumat, 15 Maret 2013

Perempuan Tanpa Kain Basahan


 

Perempuan Tanpa Kain Basahan

Tengku  Marni Adriyah

            Ada perempuan selalu meliuk di tepi perigi berlampu sinar bulan. Ia kibaskan rambut bergelombang. Meraba dahi hingga batas punggung. Tubuhnya kuning pendar, mungkin karena langit malam begitu terang. Kadang putih kelam, bila mendung anggunkan keberadaan.

            Ia pertemukan sepasang kaki dengan air yang tak sabar menahan gelora untuk segera merengkuhnya. Berdiri bulu kuduknya ketika air fasih membasuh setiap jengkal tubuh. Ia begitu menikmati setiap tetes yang menyentuh. Ketika malam merangkak, cepat disambarnya sehelai kain panjang berwarna coklat tua-motif tiga lurik. Ia tinggalkan salam pada kesunyian di perigi. Ia berjanji. Esok, saat matahari mulai lelah, dan bulan datang berwajah pusat pasi, pasti ia akan segera kembali.
*          *          *
            Melati. Begitu biasa orang memanggilnya. Seperti namanya. Ia tentu berwajah sempurna. Rambut gelap pekat, tersipu malu bulu-bulu halus yang tumbuh berebutan mempercantik dahi mungilnya. Alis matanya bertaut, di atas dua muara teduh coklat gelap yang memancarkan cahaya damai. Hidung bangir dan bibir tipis yang selalu tersenyum.
            Melati waktu itu 14 tahun.. Ia masih kuntum bunga. Bukan satu atau dua lelaki yang menerka-nerka dan menunggu mekarnya. Tapi hampir semua lelaki yang melihatnya. Ia masih kuntum bunga ketika tak malu mendayung sepeda pergi ke kreung, sungai tempat ia mencuci bersama teman-temannya. Lalu duduk berjam-jam di atas batu memakai kain sebatas dada. Mencoba membanding-bandingkan mimpi mereka. Saat matahari mulai marah, Melati dan teman-temannya kembali mendayung sepeda, tanpa alas kaki.
Sorenya ia pergi belajar menjahit di rumah Cik Ani. Jahitan Melai sangat rapi. Mungkin karena benang dan jarum ia jadikan pengantin, begitu serasi.
            Ia masih kuntum bunga. Saat Bang Rozaq, anak geucik jatuh cinta padanya. Melati tersipu ketika Bang Rozaq memegang tangannya di bawah pohon bambu.  Tepi sungai tempat biasa ia mencuci.
            Melati tidak tau apa perasaan hatinya. Ia tidak pernah membayangkan apalagi sampai memimpikan Bang Rozaq, seperti cerita teman-temannya. Ia juga tidak merasa senang. Ia lebih senang bila Nyak membelikan ia baju baru. Tadi pagi ia hanya malu. Karena untuk pertama kalinya, ada lelaki yang menggenggam bahkan mencium tangannya.
            Malamnya pak Geucik datang. Melati tak mengerti ketika Abi meminta maaf pada Pak Geucik, padahal Abi tidak punya salah apa-apa. Kata Abi : Saya minta maaf, Melati masih kecil belum bisa dinikahkan.
            Sejak malam itu, Bang Rozaq tidak baik seperti dulu lagi. Bang Rozaq tidak lagi menanti Melati pergi mencuci. Tidak juga membelikannya bada,pisang goreng kesukaan Melati. Melati tidak peduli. Esok paginya, ia kembali dibelikan baju baru. “Untuk hadiah ulang tahun.” Kata Abi.
            Entah berapa ratus malam terlewati dan entah berapa Rozaq yang harus bermimpi dapat membawa pulang tepak sirih, milik Nyak Melati. Tapi, Abi tetap berkata : “Melati masih kecil.” Waktu itu Melati 16 tahun.
            Teman-teman mencucinya sudah banyak yang pergi. Mereka ikut suami. Bahkan ada yang sudah punya anak. Ia dipanggil Cik Melati. Melati iri saat teman-temannya menceritakan tentang lelaki yang telah mencuri waktu mimpi. Kata mereka jatuh cinta. Ya, jatuh cinta. Kak Rahma, teman mencucinya bilang, jatuh cinta itu kita selalu teringat wajahnya “ hana mangat pajoh bue, eh pih hana lelap.”
            Melati heran. Ia tak pernah rasakan itu. Ia justru kerap bermimpi, Abi dan Nyak mengajaknya jalan-jalan naik feri.
            Ia masih kuntum bunga. Ketika pagi itu laut meminangnya menjadi istri. Ini entah penolakan yang kebeberapa kali. Tapi penolakan kali ini membuat Melati kehilangan semuanya. Abi, Nyak, Cik Ani, saudara, bahkan hampir semua teman mencucinya. Tak luput laut merebut Rozaq-Rozaq yang pernah memimpikan akan melihat Melati mekar dalam pelukan mereka.
            Melati hilang kendali. Ia mekar dalam tangis yang tiada henti. Meminta wujud peduli. Sepi dalam gamang yang terus mengintai. Ia berjalan tanpa Abi dan Nyak. Ia mekar dalam luka yang entah kapan bisa terobati.
            Bulan ke enam sejak pagi itu, Melati benahi diri. Ia tak ingin terus mati dalam kenangan Abi dan Nyak yang lupa mengajaknya pergi.
            Melati kini miliki rumah lagi. Ia tinggal sendiri. Ia tetap mekar walau tangis masih menggantung di sudut matanya. Bibinya masih tersenyum meski sekali-kali terdengar ia memanggil Abi dan Nyak. Ia melukis mimpi sendiri pada setiap embun yang mengunjunginya.
*          *          *
            Robet. Tuan Robet. Begitu Melati memanggilnya. Laki-laki paling tampan yang pernah Ia lihat. Belum pernah ada yang setampan itu di kampungnya. Wajah Tuan Robet mirip bintang film. Bertubuh tinggi, meski agak kurus, tapi ia terlihat gagah. Kulitnya putih kemerahan, apalagi jika terkena matahari. Kulit itu seperti marah.
            Melati sangat suka melihat Tuan Robet di bawah matahari. Rambut ikal warna bulu jagung, mata coklat terang, bibir merah, seperti habis makan cabe, kata Melati.
            Melati senang dekat Tuan Robet. Rumah melati paling cepat selesai dibandingkan rumah penduduk lain yang masih tersisa. Dia juga belikan Melati baju baru, bahkan televisi. Melati tidak sedih lagi. Melati memimpikan Tuan Robet. Dia mencium pipi Melati. Ia terbangun. Melati begitu kesal. Padahal Melati ingin terus melanjutkan mimpi agar Tuan Robet bisa mencium pipinya lagi.
            Malam itu hujan deras. Tuan Robet sudah datang dari sore. Pakai parfum. Melati senang mencium aroma tubuh Tuan Robet. Jarum pendek jam dinding sudah di angka 10. Tapi Tuan Robet masih menonton televisi.
            “Heran!” Dulu di kampungnya, kalau ada laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dalam satu rumah, hanya berdua saja. Orang-orang kampung akan menangkap dan memandikan mereka.
            “Tidak mungkin.” Kata Tuan Robet. Ketika Melati katakan takut hal itu terjadi padanya.
            Melati percaya. Orang kampung semuanya suka pada Tuan Robet. Tuan Robet baik, banyak uang.
            Tuan Robet matikan televisi. Diluar masih hujan sangat deras. Tuan Robet mencium jari-jari Melati. Melati tidak percaya. Ia bahagia. Jantungnya berpacu sangat kencang.
            Melati lelah untuk melukis mimpi pada embun yang datang pagi ini. Bahkan malamnya ia tidak sempat lagi menatap bintang yang biasanya ia lakukan bila rindu pada Abi dan Nyak. Melati sudah kehilangan berpuluh-puluh paginya.
                                                            * * *
            Bungong keumang. Ya, Melati adalah bunga yang sedang kembang, hingga Abi dan Nyak begitu takut Melati disentuh kumbang-kumbang tanpa harapan.
            Tuan Robet telah pergi. Tetapi Melati tidak peduli. Silih berganti Tuan Robet lain mendatanginya. Bukan hanya bermata coklat terang, ada yang berwarna biru bahkan biru kehijauan.
            Melati kini 19 tahun. Ia bunga mekar dalam pelukan berpasang mata. Ia kembali menatap bintang ketika haidnya tak datang-datang. Ia ingin melihat wajah Nyak dan Abi. Melati menggulung sesal pada sesuatu di rahimnya, ia membuangnya diantara jerit perih.
Melati bunga patah. Tapi ia belum layu. Bergantian Tuan Robet baru mengujunginya, menyanjungnya, menyayanginya.
Entah ke beberapa kali pula ia merampas tanggis-tanggis yang akan memanggilnya Ibu.
            Ada perempuan yang selalu meliuk di tepi perigi berlampu sinar bulan. Ia gulung rambut bergelombang, hingga jelas bentuk tengkuknya. Malam itu ia baca nama Tuhan sebelum air menina bobokkan tubuhnya. Ia izinkan dingin membaluti tubuhnya yang masih menawan meski berpasang tangan telah menanam dosa diatasnya.
            Ia mandi sembari menanggis. Wajahnya tengadah menatap bintang. Bibirnya. Merintih berbisik “ Umi, Abi, pakon hantom jak sawue lon.
Disana juga ia melihat wajah-wajah Robet yang telah menemaninya beratus malam.
            Ia layu. Virus. Penyebabnya virus berbahaya, kata Dokter. Entah Robet mana yang menghadiahi ia penyakit itu. Dan entah Robet mana pula yang ia hadiahi penyakit itu. Umurnya tinggal setahun lagi. Rupanya virus itupun telah begitu ingin memiliki dirinya, utuh. Ia begitu lelah, lemah, sakit, ia tak mampu bertahan lagi. Ia sanding air dan darah melalui nadinya.
            Tanah, pagi itu menanggis.
            Seorang perempuan berusia 21 tahun. Telah ditemukan tidak bernyawa di belakang rumahnya. Korban tewas dengan urat nadi terputus. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai kasus ini. Tapi kuat dugaan kematian korban akibat bunuh diri. Korban yang merupakan pasien positif HIV ini, telah…
*          *          *
            Ada perempuan yang selalu meliuk di tepi perigi berlampu sinar bulan. Ia ikat rambut lurus sebahu. Mawar, namanya.

                                                                                    Stasiun Sepi, Bulan Ketiga 2007

Keterangan :
-Nyak = Ibu
-Abi   = Ayah
-Cik  = Tante
- Geucik = Kepala Desa
- Lon lakee meaf, jih mantong ubeut, golom jeut tapeu kawen,
 lage bungong golom keumang = saya minta maaf, dia masih kecil, belum bisa dinikahkan. Kalau bunga, dia bunga yang belum kembang.
- Melati, mantong lage aneuk miet. Pakiban, neuk tapeu kawen = Melati masih seperti anak-anak. Bagaimana mungkin dinikahkan.
- hana mangat pajoh bue, eh pih hana lelap = tidak enak makan nasi, tidurpun tidak lelap.
- pakon hantom jak sawue lon =, kenapa tidak pernah datang melihat saya.
- Bada = pisang goreng          



Tidak ada komentar:

Posting Komentar