Perempuan Tanpa Kain Basahan
Tengku Marni Adriyah
Ada perempuan selalu meliuk di tepi perigi
berlampu sinar bulan. Ia kibaskan rambut bergelombang. Meraba dahi hingga batas
punggung. Tubuhnya kuning pendar, mungkin karena langit malam begitu terang.
Kadang putih kelam, bila mendung anggunkan keberadaan.
Ia pertemukan
sepasang kaki dengan air yang tak sabar menahan gelora untuk segera
merengkuhnya. Berdiri bulu kuduknya ketika air fasih membasuh setiap jengkal
tubuh. Ia begitu menikmati setiap tetes yang menyentuh. Ketika malam merangkak,
cepat disambarnya sehelai kain panjang berwarna coklat tua-motif tiga lurik. Ia
tinggalkan salam pada kesunyian di perigi. Ia berjanji. Esok, saat matahari
mulai lelah, dan bulan datang berwajah pusat pasi, pasti ia akan segera
kembali.
* * *
Melati. Begitu
biasa orang memanggilnya. Seperti namanya. Ia tentu berwajah sempurna. Rambut
gelap pekat, tersipu malu bulu-bulu halus yang tumbuh berebutan mempercantik
dahi mungilnya. Alis matanya bertaut, di atas dua muara teduh coklat gelap yang
memancarkan cahaya damai. Hidung bangir dan bibir tipis yang selalu tersenyum.
Melati waktu itu 14
tahun.. Ia masih kuntum bunga. Bukan satu atau dua lelaki yang menerka-nerka
dan menunggu mekarnya. Tapi hampir semua lelaki yang melihatnya. Ia masih
kuntum bunga ketika tak malu mendayung sepeda pergi ke kreung, sungai tempat ia mencuci bersama
teman-temannya. Lalu duduk berjam-jam di atas batu memakai kain sebatas dada.
Mencoba membanding-bandingkan mimpi mereka. Saat matahari mulai marah, Melati
dan teman-temannya kembali mendayung sepeda, tanpa alas kaki.
Sorenya ia pergi belajar menjahit di rumah Cik
Ani. Jahitan Melai sangat rapi. Mungkin karena benang dan jarum ia jadikan
pengantin, begitu serasi.
Ia masih kuntum
bunga. Saat Bang Rozaq, anak geucik
jatuh cinta padanya. Melati tersipu ketika Bang Rozaq memegang tangannya di
bawah pohon bambu. Tepi sungai tempat
biasa ia mencuci.
Melati tidak tau
apa perasaan hatinya. Ia tidak pernah membayangkan apalagi sampai memimpikan
Bang Rozaq, seperti cerita teman-temannya. Ia juga tidak merasa senang. Ia
lebih senang bila Nyak membelikan ia baju baru. Tadi pagi ia hanya malu. Karena
untuk pertama kalinya, ada lelaki yang menggenggam bahkan mencium tangannya.
Malamnya pak Geucik datang. Melati tak mengerti
ketika Abi meminta maaf pada Pak Geucik,
padahal Abi tidak punya salah apa-apa. Kata Abi : Saya minta
maaf, Melati masih kecil belum bisa dinikahkan.
Sejak malam itu,
Bang Rozaq tidak baik seperti dulu lagi. Bang Rozaq tidak lagi menanti Melati
pergi mencuci. Tidak juga membelikannya bada,pisang
goreng kesukaan Melati. Melati tidak peduli. Esok paginya, ia kembali dibelikan
baju baru. “Untuk hadiah ulang tahun.” Kata Abi.
Entah berapa ratus
malam terlewati dan entah berapa Rozaq yang harus bermimpi dapat membawa pulang
tepak sirih, milik Nyak Melati. Tapi, Abi tetap berkata : “Melati
masih kecil.” Waktu itu Melati 16 tahun.
Teman-teman
mencucinya sudah banyak yang pergi. Mereka ikut suami. Bahkan ada yang sudah
punya anak. Ia dipanggil Cik Melati. Melati iri saat teman-temannya
menceritakan tentang lelaki yang telah mencuri waktu mimpi. Kata mereka jatuh
cinta. Ya, jatuh cinta. Kak Rahma, teman mencucinya bilang, jatuh cinta itu
kita selalu teringat wajahnya “ hana
mangat pajoh bue, eh pih hana lelap.”
Melati heran. Ia
tak pernah rasakan itu. Ia justru kerap bermimpi, Abi dan Nyak mengajaknya
jalan-jalan naik feri.
Ia masih kuntum
bunga. Ketika pagi itu laut meminangnya menjadi istri. Ini entah penolakan yang
kebeberapa kali. Tapi penolakan kali ini membuat Melati kehilangan semuanya. Abi,
Nyak, Cik Ani, saudara, bahkan hampir semua teman mencucinya. Tak luput
laut merebut Rozaq-Rozaq yang pernah memimpikan akan melihat Melati mekar dalam
pelukan mereka.
Melati hilang
kendali. Ia mekar dalam tangis yang tiada henti. Meminta wujud peduli. Sepi
dalam gamang yang terus mengintai. Ia berjalan tanpa Abi dan Nyak.
Ia mekar dalam luka yang entah kapan bisa terobati.
Bulan ke enam sejak
pagi itu, Melati benahi diri. Ia tak ingin terus mati dalam kenangan Abi dan
Nyak yang lupa mengajaknya pergi.
Melati kini miliki
rumah lagi. Ia tinggal sendiri. Ia tetap mekar walau tangis masih menggantung
di sudut matanya. Bibinya masih tersenyum meski sekali-kali terdengar ia
memanggil Abi dan Nyak. Ia melukis mimpi sendiri pada setiap
embun yang mengunjunginya.
* * *
Robet. Tuan Robet.
Begitu Melati memanggilnya. Laki-laki paling tampan yang pernah Ia lihat. Belum
pernah ada yang setampan itu di kampungnya. Wajah Tuan Robet mirip bintang
film. Bertubuh tinggi, meski agak kurus, tapi ia terlihat gagah. Kulitnya putih
kemerahan, apalagi jika terkena matahari. Kulit itu seperti marah.
Melati
sangat suka melihat Tuan Robet di bawah matahari. Rambut ikal warna bulu
jagung, mata coklat terang, bibir merah, seperti habis makan cabe, kata Melati.
Melati senang dekat
Tuan Robet. Rumah melati paling cepat selesai dibandingkan rumah penduduk lain
yang masih tersisa. Dia juga belikan Melati baju baru, bahkan televisi. Melati
tidak sedih lagi. Melati memimpikan Tuan Robet. Dia mencium pipi Melati. Ia
terbangun. Melati begitu kesal. Padahal Melati ingin terus melanjutkan mimpi
agar Tuan Robet bisa mencium pipinya lagi.
Malam itu hujan
deras. Tuan Robet sudah datang dari sore. Pakai parfum. Melati senang mencium
aroma tubuh Tuan Robet. Jarum pendek jam dinding sudah di angka 10. Tapi Tuan
Robet masih menonton televisi.
“Heran!” Dulu di
kampungnya, kalau ada laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dalam satu
rumah, hanya berdua saja. Orang-orang kampung akan menangkap dan memandikan
mereka.
“Tidak mungkin.”
Kata Tuan Robet. Ketika Melati katakan takut hal itu terjadi padanya.
Melati percaya. Orang
kampung semuanya suka pada Tuan Robet. Tuan Robet baik, banyak uang.
Tuan Robet matikan
televisi. Diluar masih hujan sangat deras. Tuan Robet mencium jari-jari Melati.
Melati tidak percaya. Ia bahagia. Jantungnya berpacu sangat kencang.
Melati lelah untuk
melukis mimpi pada embun yang datang pagi ini. Bahkan malamnya ia tidak sempat
lagi menatap bintang yang biasanya ia lakukan bila rindu pada Abi dan Nyak.
Melati sudah kehilangan berpuluh-puluh paginya.
*
* *
Bungong keumang.
Ya, Melati adalah bunga yang sedang kembang, hingga Abi dan Nyak begitu takut
Melati disentuh kumbang-kumbang tanpa harapan.
Tuan Robet telah
pergi. Tetapi Melati tidak peduli. Silih berganti Tuan Robet lain
mendatanginya. Bukan hanya bermata coklat terang, ada yang berwarna biru bahkan
biru kehijauan.
Melati kini 19
tahun. Ia bunga mekar dalam pelukan berpasang mata. Ia kembali menatap bintang
ketika haidnya tak datang-datang. Ia ingin melihat wajah Nyak dan Abi.
Melati menggulung sesal pada sesuatu di rahimnya, ia membuangnya diantara jerit
perih.
Melati bunga patah. Tapi ia belum layu. Bergantian Tuan
Robet baru mengujunginya, menyanjungnya, menyayanginya.
Entah ke beberapa kali pula ia merampas tanggis-tanggis
yang akan memanggilnya Ibu.
Ada perempuan yang selalu meliuk di tepi
perigi berlampu sinar bulan. Ia gulung rambut bergelombang, hingga jelas bentuk
tengkuknya. Malam itu ia baca nama Tuhan sebelum air menina bobokkan tubuhnya.
Ia izinkan dingin membaluti tubuhnya yang masih menawan meski berpasang tangan
telah menanam dosa diatasnya.
Ia mandi sembari
menanggis. Wajahnya tengadah menatap bintang. Bibirnya. Merintih berbisik “ Umi, Abi, pakon hantom jak sawue lon. “
Disana juga ia melihat wajah-wajah Robet yang telah
menemaninya beratus malam.
Ia layu. Virus.
Penyebabnya virus berbahaya, kata Dokter. Entah Robet mana yang menghadiahi ia
penyakit itu. Dan entah Robet mana pula yang ia hadiahi penyakit itu. Umurnya
tinggal setahun lagi. Rupanya virus itupun telah begitu ingin memiliki dirinya,
utuh. Ia begitu lelah, lemah, sakit, ia tak mampu bertahan lagi. Ia sanding air
dan darah melalui nadinya.
Tanah, pagi itu
menanggis.
Seorang
perempuan berusia 21 tahun. Telah ditemukan tidak bernyawa di belakang
rumahnya. Korban tewas dengan urat nadi terputus. Belum ada informasi lebih
lanjut mengenai kasus ini. Tapi kuat dugaan kematian korban akibat bunuh diri.
Korban yang merupakan pasien positif HIV ini, telah…
* * *
Ada perempuan yang selalu meliuk di tepi
perigi berlampu sinar bulan. Ia ikat rambut lurus sebahu. Mawar, namanya.
Stasiun
Sepi, Bulan Ketiga 2007
Keterangan :
-Nyak = Ibu
-Abi = Ayah
-Cik
= Tante
- Geucik = Kepala Desa
- Lon lakee meaf, jih mantong
ubeut, golom jeut tapeu kawen,
lage bungong golom keumang = saya minta maaf, dia masih kecil, belum bisa dinikahkan. Kalau
bunga, dia bunga yang belum kembang.
- Melati, mantong lage
aneuk miet. Pakiban, neuk tapeu kawen = Melati
masih seperti anak-anak. Bagaimana mungkin dinikahkan.
- hana mangat pajoh bue, eh
pih hana lelap = tidak enak makan nasi, tidurpun tidak lelap.
- pakon hantom jak sawue lon
=, kenapa tidak pernah datang melihat saya.
- Bada = pisang goreng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar