Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
“Setiap kelas adalah rumah” - Tengku Marni Adriyah

Selasa, 06 September 2022

“Setiap kelas adalah rumah”


 

  

                                                      “Setiap kelas adalah rumah”
              (Memenuhi kebutuhan Belajar  Murid melalui pembelajaran berdiferensiasi)

“Setiap kelas adalah rumah”, berikut analogi yang saya gunakan sebagai pengingat untuk diri saya sendiri terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di rumah kita selalu ingat bahwa tidak semua anggota keluarga suka mendengar musik atau tidak semua anggota keluarga senang dengan keramaian. Kita sering bercerita tentang si adik yang lebih suka bertanya dan meminta kita menjelaskan satu persoalan secara detail, sementara si Kakak lebih tertarik pada tumpukan buku. Di rumah kita selalu bisa berlapang dada menerima perbedaan itu, dan berupaya mengakomodir kebutuhan mereka yang berbeda.

Lalu mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, sebagai seorang pendidik yang memiliki peran sebagai pemimpin pembelajaran, sudahkah kita memperlakukan hal yang sama di kelas? Apakah kita sudah berlaku adil terhadap murid-murid di kelas. Ingat, adil bukan memberikan perlakuan yang sama rata kepada murid, tetapi adil adalah memberikan perlakuan sesuai dengan kebutuhan murid. Kembali mengingat perkataan Bapak Ki Hajar Dewantara bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tugas kita adalah menuntun, bukan “menuntut” anak, dengan memperlakukan mereka sesuai dengan keinginan kita. Apakah kita sudah menuntun, atau selama ini kita hanya memposisikan diri kita sebagai pemantau, yang selalu beranggapan bahwa kendali kontrol anak ada pada kita.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah upaya yang dilakukan pendidik untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Lalu bagaimana cara kita mengetahui kebutuhan tersebut? Ada tiga aspek yang bisa kita lihat yaitu, kesiapan belajar, minat murid, dan profil murid. Untuk melihat ketiga aspek ini, dapat menggunakan berbagai strategi, mulai dari pengamatan, diskusi, survey, wawacara dengan wali murid, melihat buku penilaian, dlsb. Hasil dari ketiga aspek inilah nantinya yang akan menjadi pertimbangan pembelajaran di kelas. Sebagai seorang guru kita tentunya harus melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid, kemampuan berinovasi juga sangat diperlukan pada saat merancang proses pembelajaran di kelas. Kita harus menemukan strategi, untuk dapat mengakomodir semua kebutuhan anak, sehingga semua potensi yang ada pada dirinya dapat berkembang secara optimal.

 Ada tiga strategi diferensiasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yaitu: Diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten adalah materi, bahan atau informasi yang akan dipelajari oleh murid. Guru perlu menyediakan bahan, alat, materi atau media yang mengakomodir kebutuhan muridnya (kesiapan belajar, minat, profil murid, atau kombinasi ketiganya). Diferensiasi proses menekankan pada pemahaman murid selama pembelajaran berlangsung, dapat dilaksanakan dengan kegiatan berjenjang/bertahap,challenge, pertanyaan pemandu,mengembangkan kegiatan yang tidak membosankan, ,mengatur durasi sesuai kebutuhan murid. Diferensiasi produk adalah perbedaan produk yang dihasilkan oleh murid, murid boleh memilih moda ekspresinya dalam bentuk apapun sesuai minat, profil dan kesiapan belajarnya.

Agar pembelajaran berdiferensiasi berjalan dengan baik, ada beberapa hal yang bisa kita terapkan yaitu: Tujuan pembelajaran harus jelas bagi guru dan murid, diperlukan strategi guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, manajemen kelas yang efektif, dan tentu adanya penilaian yang berkelanjutan.

Pembelajaran berdiferensiasi tentu sejalan dengan tumbuhnya disiplin positif, karena Ketika proses pembelajaran berdiferensiasi berlangsung, maka terpenuhilah kebutuhan dasar anak, yang berdampak pada lahirnya motivasi internal hingga terwujudnya budaya positif.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar