“Setiap kelas adalah rumah”
(Memenuhi kebutuhan Belajar Murid melalui pembelajaran berdiferensiasi)
“Setiap kelas adalah rumah”, berikut analogi yang saya
gunakan sebagai pengingat untuk diri saya sendiri terkait pembelajaran berdiferensiasi.
Di rumah kita selalu ingat bahwa tidak semua anggota keluarga suka mendengar musik
atau tidak semua anggota keluarga senang dengan keramaian. Kita sering
bercerita tentang si adik yang lebih suka bertanya dan meminta kita menjelaskan
satu persoalan secara detail, sementara si Kakak lebih tertarik pada tumpukan
buku. Di rumah kita selalu bisa berlapang dada menerima perbedaan itu, dan berupaya
mengakomodir kebutuhan mereka yang berbeda.
Lalu mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing,
sebagai seorang pendidik yang memiliki peran sebagai pemimpin pembelajaran,
sudahkah kita memperlakukan hal yang sama di kelas? Apakah kita sudah berlaku
adil terhadap murid-murid di kelas. Ingat, adil bukan memberikan perlakuan yang
sama rata kepada murid, tetapi adil adalah memberikan perlakuan sesuai dengan
kebutuhan murid. Kembali mengingat perkataan Bapak Ki Hajar Dewantara bahwa maksud
dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak,
agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tugas kita adalah menuntun,
bukan “menuntut” anak, dengan memperlakukan mereka sesuai dengan keinginan
kita. Apakah kita sudah menuntun, atau selama ini kita hanya memposisikan diri
kita sebagai pemantau, yang selalu beranggapan bahwa kendali kontrol anak ada
pada kita.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah upaya yang
dilakukan pendidik untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Lalu bagaimana cara
kita mengetahui kebutuhan tersebut? Ada tiga aspek yang bisa kita lihat yaitu, kesiapan
belajar, minat murid, dan profil murid. Untuk melihat ketiga aspek ini, dapat
menggunakan berbagai strategi, mulai dari pengamatan, diskusi, survey, wawacara
dengan wali murid, melihat buku penilaian, dlsb. Hasil dari ketiga aspek inilah
nantinya yang akan menjadi pertimbangan pembelajaran di kelas. Sebagai seorang
guru kita tentunya harus melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid, kemampuan
berinovasi juga sangat diperlukan pada saat merancang proses pembelajaran di
kelas. Kita harus menemukan strategi, untuk dapat mengakomodir semua kebutuhan
anak, sehingga semua potensi yang ada pada dirinya dapat berkembang secara
optimal.
Ada tiga strategi
diferensiasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yaitu: Diferensiasi
konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten adalah
materi, bahan atau informasi yang akan dipelajari oleh murid. Guru perlu menyediakan
bahan, alat, materi atau media yang mengakomodir kebutuhan muridnya (kesiapan
belajar, minat, profil murid, atau kombinasi ketiganya). Diferensiasi proses menekankan
pada pemahaman murid selama pembelajaran berlangsung, dapat dilaksanakan dengan
kegiatan berjenjang/bertahap,challenge, pertanyaan pemandu,mengembangkan
kegiatan yang tidak membosankan, ,mengatur durasi sesuai kebutuhan murid. Diferensiasi
produk adalah perbedaan produk yang dihasilkan oleh murid, murid boleh memilih
moda ekspresinya dalam bentuk apapun sesuai minat, profil dan kesiapan belajarnya.
Agar pembelajaran berdiferensiasi berjalan dengan
baik, ada beberapa hal yang bisa kita terapkan yaitu: Tujuan pembelajaran harus
jelas bagi guru dan murid, diperlukan strategi guru dalam memenuhi kebutuhan
belajar murid, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, manajemen kelas yang
efektif, dan tentu adanya penilaian yang berkelanjutan.
Pembelajaran berdiferensiasi tentu sejalan dengan
tumbuhnya disiplin positif, karena Ketika proses pembelajaran berdiferensiasi
berlangsung, maka terpenuhilah kebutuhan dasar anak, yang berdampak pada lahirnya
motivasi internal hingga terwujudnya budaya positif.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar