Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Tengku Marni Adriyah

Kamis, 20 Oktober 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 ( Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Belajar)


 

Tiap-tiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggung jawabannya, dan kita semua adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.

Pratap Triloka (trilogi kepemimpin) dituangkan KHD dalam filsafahnya yaitu “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Salah satu isi dari Pratap Triloka diabadikan pada idenitas pakaian seragam Sekolah seluruh murid di Indonesia, Yaitu Tut Wuri Handayani. Pratap Triloka jelas memegang kaiutan yang sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Bahkan dimulai dari jenjang Pendidikan Sekolah Dasar, anak-anak Indonesia sudah diajarkan bagaimana sesungguhnya menjadi pemimpin yang baik, dengan dikenalkannya semboyan Tut Wuri handayani di seragam sekolahnya. Konsep trilogi kepemimpinan,adalah landasan kita bagaimana pemikiran, perkataan, dan sikap seorang pemimpin.

Sebagai seorang calon guru penggerak, salah satu peran saya adalah menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi orang lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan mengerakkan komunitas praktisi. Semua peran diatas dijalankan dengan berpedoman pada lima nilai yaitu: Berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif.

Menjadi seorang CGP, berarti menjadi pemimoin perubahan, yang nantinya dituntut untuk mengambil keputusan yang berpihak pada murid, dapat dipertanggungjawabkan, dan pastinya sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita adalah nilai yang selaras dengan kebajikan universal, sekaligus menjadi prinsip yang tentu saja akan mempengaruhi pemikiran, perkataan, perbuatan, dan pengambilan keputusan.

                Keputusan yang paling baik adalah keputusan yang kita temukan dengan memperhatikan fakta nyata, kondisi ideal, hambatan, serta proses untuk menemukan solusi dari ketidak idealan suatu kondisi, dan solusi itu merupakan pemikiran kita, yang diwujudkan melalui komitmen. Namun untuk menghasilkan itu semua. Kita membutuhkan teman bicara yang dapat membuka pikiran, serta memikirkan ide-ide yang apabila tidak dilakukan sesi coaching tidak akan saya peroleh. Bagi saya pengalaman terkait coaching dalam pengambilan keputusan sudah sangat baik diberikan oleh Pengajar Praktik dan juga fasilitator.

                Proses pengambilan keputusan merupakan proses yang memerlukan kompetensi sosial dan emosional. Pada saat pengambilan keputusan,yang diambil karena tidak terkontrolnya kesadaran sosial, pastilah menjadikan keputusan itu, keputusan yang merugikan banyak orang. Seorang guru hendaknya mampu mengenali dan mengelola aspek sosial emosionalnya dengan baik. Sehingga keputusan yang diambil juga merupakan keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.

                Sebagai seorang pendidik masalah moral atau etika, adalah kasus yang sangat sering dijumpai. Dalam hal ini nilai kebajikan yang menjadi prinsip harus dijadikan landasan dasar, juga nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif, turut dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil tentunya harus memiliki dampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Namun untuk mengambil keputusan dengan kriteria diatas, tentu berbeda situasinya di setiap lingkungan. Pada satuan Pendidikan saya, yang merupakan satuan Pendidikan yang pengelolaanya terpadu dengan institusi lain, dilema etika yang muncul hanya bersumber dari kepentingan dan paradigma pengambilan keputusan pimpinan institusi  yang berbeda.

Keputusan yang diambil tentulah berpengaruh pada pengajaran memerdekakan murid, karena terkadang keputusan yang diambil, kerap tidak berpihak pada murid. Tetapi sebagai seorang guru, sekaligus pemimpin pembelajaran, saya berupaya untuk tetap melakukan pembelajaran berdiferensiasi, baik diferen konten, proses, maupun hasilnya. Hal ini bertujuan untuk mengakomodir potensi murid yang berbeda.

Di dalam proses pembelajaran, yang terdiri dari murid yang berbeda karakter dan potensinya, setiap pengambilan keputusan, tentulah harus didasarkan pada keharusan “berpihak pada murid” dan berprinsip pada “Berpikir hasil akhir” karena keputusan yang kita ambil saat ini, sangat berpengaruh pada masa depan murid-murid kita.

                 Mulai dari modul 1.1 terkait philosophy KI Hajar Dewanatara, hingga modul 3.1 terkait pengambilan keputusan, tentunya saling berkaitan dan memberikan pengaruh. Pengambilan kepiutusan sebagai seorang pemimpin, telah di tuliskan KHD dalam Philosohynya, pengambilan keputusan, pastilah didasarkan Nilai yang kita miliki sebagai seorang guru, yang memiliki kewajiban untuk menumbuhkan budaya positif pada murid, mengakomodir perbedaan potensi murid, melatih KSE murid, serta melakukan coaching sebagai sebuah upaya kolaborasi dalam memaksimalkan potensi murid.tak lupa juga melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri, lingkungan sekitar melalui Prakarsa perubahan.

                Mempelajari modul 3.1, diibaratkan belajar untuk pengambilan keputusan dengan cara cerdas. Melalui tahapan menemukenali perbedaan dilemma etik dan bujukan moral, yang apabila dilihat sepintas sama, namun perlu dilakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dimulai dari perbedaan konsep dilema etika dan bujukan moral, lalu 4 paradigma pengambilan keputusan Individu, 1. lawan kelompok (individual vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

Lalu terkait 3 prinsip berpikir pengambilan keputusan : Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir, dan berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). Serta haruslah memperhatikan 3 dasar pengambilan keputusan, yaitu : berpihak pada murid nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggung jawabkan.

      Hal yang diluar dugaan Ketika melakukan modul ini adalah, bahwa keputusan akan sangat baik, jika dilakukan dengan prinsip dan tahapan yang telah diuraikan diatas. Sebelum mempelajari modul ini, saya sering mengunakan prinsip berpikir berbasis peduli pada situasi moral dilema dan tidak pernah melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam proses pengambilan keputusan, namun kedepannya saya akan melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, dalam menghadapi dilema etika. Dengan mempelajari modul ini, saya berharap saya akan menjadi pemimpin nantinya , yang semua kuputusan yang saya ambil selalu berpihak kepada anak, berdasarkan nilai, dan tentu saja memiliki kebermanfaatan bagi orang banyak.

Kamis, 22 September 2022

Aksi Nyata Modul 2.2 (Pembelajaran Sosial Emosional)

 

Peristiwa : Diamanahkan untuk mendidik anak-anak yang berada di pondok, adalah tugas mulia sekaligus menantang. Banyaknya kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi serta intensitas pertemuan dengan orang tua yang minim, mengakibatkan Sebagian anak memenuhi kebutuhannya dengan perilaku yang tidak baik. Tujuan mereka adalah mencari perhatian, kasih sayang, kekuasaan, dan juga kesenangan. Tindakan yang paling sering adalah tidak masuk sekolah, dengan alasan Lelah, loundry belum datang, bertengkar, dlsb. Hal ini merupakan hal yang kami hadapi sehari-hari. 

Perasaan: Sebagai guru, saya dan teman-teman sadar bahwa kami harus bisa menerapkan KSE pada diri kami terlebih dahulu. Kami tidak boleh ikut larut dalam sosial emosi anak yang sedang berkecamuk. Setiap terjadi kasus yang menyimpang yang dilakukan murid, kami memastikan dahulu, bahwa kami mampu memanajemen diri kami terlebih dahulu agar mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Penerapan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho, saya Yakini dapat terlihat dengan jelas oleh murid.

Pembelajaran: Peran Praktik kesadaran penuh yang dapat memperkuat 5 Kompetensi Sosial Ekonomi, merupakan materi yang sangat berguna, bukan hanya untuk diimplementasikan kepada murid, tetapi juga wajib diimplementasikan kepada diri sendiri. Saya juga menyetujui prinsip Amongsystem kita yaitu: menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri.

 Pembelajaran umpan balik : Praktik kesadaran penuh yang saya lakukan adalah selalu menanyakan perasaan mereka dan kabar mereka Ketika hendak memulai pembelajaran, dan selalu menanyakan kesiapan Ketika hendak memulai aktivitas baru. Kegiatan Hal ini saya lakukan agar saya tidak mengabaikan kondisi sosial emosional murid. Dengan mempelajari modul PSE ini memberikan saya banyak pehamaan baru terkait bagaimana merancang, menerapkan, dan mengevaluasi Pembelajaran sosial emosional bagi murid.

 Penerapan: hal yang ingin saya lakukan adalah “Ing ngarso Sung Tulodho, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

 Ing ngarso Sung Tulodho : semua orang harus menjadi guru bagi orang lain terkait kompetensi sosial emosional. Saya selalu mengumpakan, Ketika kamu menunjuk seseorang dengan jari kamu untuk melakukan kebaikan, maka empat jari lain menunjuk pada dirimu sendiri (lakukan 4 kebaikan). Karena 4 kebaikan itulah yang akan menjadi contoh untuk murid dan orang lain.

 “Ing madya mangun karsa” keberhasilan murid untuk mengimplementasikan KSE pada dirinya, hanya dapat terwujud jika kita mampu berkomunikasi secara efektif dan menjalin hubungan positif agar dapat terus memberikan motivasi.

 “Tut Wuri Handayani” seseorang yang berada di belakang, bukan hanya bertugas sebagai pendorong, tetapi juga sebagai penopang apabila kondisi orang yang di depan sedang tidak baik. Kondisi sosial emosional seseorang pastilah berbeda, termasuk juga perbedaan resiliensi (ketahanan dan juga kemampuan untuk bangkit). Tugas kita adalah jeli melihat murid mana yang akan kita dorong, ataupun kita topang.

 Ketiga hal ini akan saya lakukan melalui:

 Murid harus mengenali dirinya sendiri, termasuk ciri-ciri kepribadiannya dengan cara mengisi buku panduan kerja mereka, yang berjudul Ciri-Ciri Kepribadian Saya.

2.      “Menulis pesan pujian” untuk diri sendiri dan teman, lalu memasukkannya ke kotak pujian.

3.      “melangkah keliling kelas dengan sepatu orang lain”sebuah kegiatan untuk menumbuhkan sikap empati.

4.      Pembelajaran eksplisit berkolaborasi dengan jam BK,

5.      Mengimplementasikan PSE melalui pembelajaran akademik, serta pelibatan murid dalam  rutinitas di sekolah sebagai pemimpin, pemecah masalah dan pembuatan keputusan.

6.      Membuat keyakinan Bersama terkait kSE Bersama pendidik dan tenaga pendidik

7.      Melakukan diskusi terkait KSE bagi pendidik dan tenaga pendidik

8.      Membentuk komunitas dan system mentoring bagi teman sejawat.


Qoutes:



 (Semua guru memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan, tapi kamu, salah satu yang terpilih untuk lebih dahulu melakukannya -TM)

(Tidak semua murid beruntung, memiliki guru yang bijaksana, tapi kamu, bisa menjadikan muridmu menjadi bahagian dari yang beruntung itu -TM)

Jumat, 09 September 2022

Aksi Nyata Modul 1. 4 (Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Melalui Budaya Positif)

                                                            Aksi Nyata Modul 1. 4 Seminar Pendidikan
                                       (Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Melalui Budaya Positif)



Disiplin, apakah yang ada di benak kita Ketika mendengar kata ini? Apakah rentetan peraturan yang apabila tidak dilaksanakan akan berakibat pada pemberian sanksi, atau berupa sikap yamg harus ada pada diri seseorang. Apapun persepsi kita tentang disiplin positif, pastinya hal ini lah yang akan menjadi cikal bakal menuju budaya positif.

Dari segi kata, disiplin berasal dari bahasa latin yaitu “Discere” yang artinya belajar. Yang jika diartikan lebih lanjut dari kata dasar “Discipline”, maka maknanya adalah latihan atau pendidikan dalam pengembangan harkat, spiritualitas, dan kepribadian.

Ki Hajar Dewantara menyatakan “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat “selfdiscipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan selfdiscipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Caranya ialah dengan melakukan pembiasaan -pembiasaan positif. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470).

Mempelajari modul 1.4 pada program guru penggerak ini, seperti sedang melakukan checklist kesalahan dari diri sendiri. Setiap materi yang tersajikan, selalu berhasil membuat saya terperanjat dan merasa malu, bahwa ternyata saya memiliki pandangan yang salah terkait disiplin dan budaya positif.

Sebagai seorang CGP, saya memiliki kewajiban untuk bergerak, menggerakkan komunitas agar merubah pandangan kami, bahwa selama ini kami menyakini ilusi kontrol yang salah, kami juga tidak sadar bahwa terlalu fokus menyemai motivasi ektrinsik pada diri murid, tetapi lupa menumbuhkan motivasi intrinsik menuju tercapainya budaya positif.  Untuk itu perlu diadakan seminar Pendidikan yang saya beri judul “Mewujudkan Profil pelajar Pancasila Melalui Budaya Positif”.

Seminar ini saya adakan di SMP Negeri 10 Kejuruan Muda, peserta seminar adalah para guru SMPN 10 Kejuruan Muda. Bertempat di kantor dewan guru, dimulai dari pukul 11.00 WIB hingga 12.30 WIB. Pembukaan Kegiatan dilakukan langsung oleh Kepala Sekolah SMPN 10 kejuruan Muda, bapak Baharuddin, S.Pd. Lalu dimulai dengan mengajukan pertanyaan pemantik, ice breaking terkait teori kontrol, dan penjelasan materi-materi terkait budaya positif, yang dimulai dari disiplin positif hingga segitiga restitusi.






Selasa, 06 September 2022

“Setiap kelas adalah rumah”


 

  

                                                      “Setiap kelas adalah rumah”
              (Memenuhi kebutuhan Belajar  Murid melalui pembelajaran berdiferensiasi)

“Setiap kelas adalah rumah”, berikut analogi yang saya gunakan sebagai pengingat untuk diri saya sendiri terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di rumah kita selalu ingat bahwa tidak semua anggota keluarga suka mendengar musik atau tidak semua anggota keluarga senang dengan keramaian. Kita sering bercerita tentang si adik yang lebih suka bertanya dan meminta kita menjelaskan satu persoalan secara detail, sementara si Kakak lebih tertarik pada tumpukan buku. Di rumah kita selalu bisa berlapang dada menerima perbedaan itu, dan berupaya mengakomodir kebutuhan mereka yang berbeda.

Lalu mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, sebagai seorang pendidik yang memiliki peran sebagai pemimpin pembelajaran, sudahkah kita memperlakukan hal yang sama di kelas? Apakah kita sudah berlaku adil terhadap murid-murid di kelas. Ingat, adil bukan memberikan perlakuan yang sama rata kepada murid, tetapi adil adalah memberikan perlakuan sesuai dengan kebutuhan murid. Kembali mengingat perkataan Bapak Ki Hajar Dewantara bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tugas kita adalah menuntun, bukan “menuntut” anak, dengan memperlakukan mereka sesuai dengan keinginan kita. Apakah kita sudah menuntun, atau selama ini kita hanya memposisikan diri kita sebagai pemantau, yang selalu beranggapan bahwa kendali kontrol anak ada pada kita.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah upaya yang dilakukan pendidik untuk mengakomodir semua kebutuhan murid. Lalu bagaimana cara kita mengetahui kebutuhan tersebut? Ada tiga aspek yang bisa kita lihat yaitu, kesiapan belajar, minat murid, dan profil murid. Untuk melihat ketiga aspek ini, dapat menggunakan berbagai strategi, mulai dari pengamatan, diskusi, survey, wawacara dengan wali murid, melihat buku penilaian, dlsb. Hasil dari ketiga aspek inilah nantinya yang akan menjadi pertimbangan pembelajaran di kelas. Sebagai seorang guru kita tentunya harus melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid, kemampuan berinovasi juga sangat diperlukan pada saat merancang proses pembelajaran di kelas. Kita harus menemukan strategi, untuk dapat mengakomodir semua kebutuhan anak, sehingga semua potensi yang ada pada dirinya dapat berkembang secara optimal.

 Ada tiga strategi diferensiasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yaitu: Diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten adalah materi, bahan atau informasi yang akan dipelajari oleh murid. Guru perlu menyediakan bahan, alat, materi atau media yang mengakomodir kebutuhan muridnya (kesiapan belajar, minat, profil murid, atau kombinasi ketiganya). Diferensiasi proses menekankan pada pemahaman murid selama pembelajaran berlangsung, dapat dilaksanakan dengan kegiatan berjenjang/bertahap,challenge, pertanyaan pemandu,mengembangkan kegiatan yang tidak membosankan, ,mengatur durasi sesuai kebutuhan murid. Diferensiasi produk adalah perbedaan produk yang dihasilkan oleh murid, murid boleh memilih moda ekspresinya dalam bentuk apapun sesuai minat, profil dan kesiapan belajarnya.

Agar pembelajaran berdiferensiasi berjalan dengan baik, ada beberapa hal yang bisa kita terapkan yaitu: Tujuan pembelajaran harus jelas bagi guru dan murid, diperlukan strategi guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, manajemen kelas yang efektif, dan tentu adanya penilaian yang berkelanjutan.

Pembelajaran berdiferensiasi tentu sejalan dengan tumbuhnya disiplin positif, karena Ketika proses pembelajaran berdiferensiasi berlangsung, maka terpenuhilah kebutuhan dasar anak, yang berdampak pada lahirnya motivasi internal hingga terwujudnya budaya positif.