Tiap-tiap pemimpin pasti akan
dimintai pertanggung jawabannya, dan kita semua adalah pemimpin bagi diri kita
sendiri.
Pratap Triloka
(trilogi kepemimpin) dituangkan KHD dalam filsafahnya yaitu “Ing Ngarso Sung
Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Salah satu isi dari
Pratap Triloka diabadikan pada idenitas pakaian seragam Sekolah seluruh murid
di Indonesia, Yaitu Tut Wuri Handayani. Pratap Triloka jelas memegang kaiutan
yang sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang
pemimpin? Bahkan dimulai dari jenjang Pendidikan Sekolah Dasar, anak-anak Indonesia
sudah diajarkan bagaimana sesungguhnya menjadi pemimpin yang baik, dengan
dikenalkannya semboyan Tut Wuri handayani di seragam sekolahnya. Konsep trilogi
kepemimpinan,adalah landasan kita bagaimana pemikiran, perkataan, dan sikap
seorang pemimpin.
Sebagai
seorang calon guru penggerak, salah satu peran saya adalah menjadi pemimpin
pembelajaran, menjadi coach bagi orang lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan
kepemimpinan murid dan mengerakkan komunitas praktisi. Semua peran diatas dijalankan
dengan berpedoman pada lima nilai yaitu: Berpihak pada murid, mandiri, reflektif,
kolaboratif dan inovatif.
Menjadi
seorang CGP, berarti menjadi pemimoin perubahan, yang nantinya dituntut untuk
mengambil keputusan yang berpihak pada murid, dapat dipertanggungjawabkan, dan
pastinya sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai yang tertanam dalam
diri kita adalah nilai yang selaras dengan kebajikan universal, sekaligus
menjadi prinsip yang tentu saja akan mempengaruhi pemikiran, perkataan, perbuatan,
dan pengambilan keputusan.
Keputusan
yang paling baik adalah keputusan yang kita temukan dengan memperhatikan fakta
nyata, kondisi ideal, hambatan, serta proses untuk menemukan solusi dari
ketidak idealan suatu kondisi, dan solusi itu merupakan pemikiran kita, yang
diwujudkan melalui komitmen. Namun untuk menghasilkan itu semua. Kita membutuhkan
teman bicara yang dapat membuka pikiran, serta memikirkan ide-ide yang apabila tidak
dilakukan sesi coaching tidak akan saya peroleh. Bagi saya pengalaman terkait
coaching dalam pengambilan keputusan sudah sangat baik diberikan oleh Pengajar
Praktik dan juga fasilitator.
Proses
pengambilan keputusan merupakan proses yang memerlukan kompetensi sosial dan
emosional. Pada saat pengambilan keputusan,yang diambil karena tidak
terkontrolnya kesadaran sosial, pastilah menjadikan keputusan itu, keputusan
yang merugikan banyak orang. Seorang guru hendaknya mampu mengenali dan mengelola
aspek sosial emosionalnya dengan baik. Sehingga keputusan yang diambil juga
merupakan keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Sebagai seorang pendidik masalah
moral atau etika, adalah kasus yang sangat sering dijumpai. Dalam hal ini nilai
kebajikan yang menjadi prinsip harus dijadikan landasan dasar, juga nilai berpihak
pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif, turut dijadikan
pedoman dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil tentunya harus memiliki
dampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Namun
untuk mengambil keputusan dengan kriteria diatas, tentu berbeda situasinya di
setiap lingkungan. Pada satuan Pendidikan saya, yang merupakan satuan Pendidikan
yang pengelolaanya terpadu dengan institusi lain, dilema etika yang muncul hanya
bersumber dari kepentingan dan paradigma pengambilan keputusan pimpinan institusi
yang berbeda.
Keputusan yang
diambil tentulah berpengaruh pada pengajaran memerdekakan murid, karena
terkadang keputusan yang diambil, kerap tidak berpihak pada murid. Tetapi
sebagai seorang guru, sekaligus pemimpin pembelajaran, saya berupaya untuk
tetap melakukan pembelajaran berdiferensiasi, baik diferen konten, proses,
maupun hasilnya. Hal ini bertujuan untuk mengakomodir potensi murid yang
berbeda.
Di dalam
proses pembelajaran, yang terdiri dari murid yang berbeda karakter dan potensinya,
setiap pengambilan keputusan, tentulah harus didasarkan pada keharusan “berpihak
pada murid” dan berprinsip pada “Berpikir hasil akhir” karena keputusan yang kita
ambil saat ini, sangat berpengaruh pada masa depan murid-murid kita.
Mulai dari modul 1.1 terkait philosophy KI
Hajar Dewanatara, hingga modul 3.1 terkait pengambilan keputusan, tentunya
saling berkaitan dan memberikan pengaruh. Pengambilan kepiutusan sebagai
seorang pemimpin, telah di tuliskan KHD dalam Philosohynya, pengambilan
keputusan, pastilah didasarkan Nilai yang kita miliki sebagai seorang guru,
yang memiliki kewajiban untuk menumbuhkan budaya positif pada murid, mengakomodir
perbedaan potensi murid, melatih KSE murid, serta melakukan coaching sebagai
sebuah upaya kolaborasi dalam memaksimalkan potensi murid.tak lupa juga
melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri, lingkungan sekitar melalui Prakarsa
perubahan.
Mempelajari
modul 3.1, diibaratkan belajar untuk pengambilan keputusan dengan cara cerdas.
Melalui tahapan menemukenali perbedaan dilemma etik dan bujukan moral, yang
apabila dilihat sepintas sama, namun perlu dilakukan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Dimulai dari perbedaan konsep dilema etika dan bujukan
moral, lalu 4 paradigma pengambilan keputusan Individu, 1. lawan kelompok
(individual vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs
mercy) 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan
jangka panjang (short term vs long term).
Lalu terkait 3 prinsip berpikir pengambilan keputusan : Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir, dan berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). Serta haruslah memperhatikan 3 dasar pengambilan keputusan, yaitu : berpihak pada murid nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggung jawabkan.
Hal yang diluar dugaan Ketika melakukan
modul ini adalah, bahwa keputusan akan sangat baik, jika dilakukan dengan
prinsip dan tahapan yang telah diuraikan diatas. Sebelum mempelajari modul ini,
saya sering mengunakan prinsip berpikir berbasis peduli pada situasi moral dilema
dan tidak pernah melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam
proses pengambilan keputusan, namun kedepannya saya akan melakukan 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan, dalam menghadapi dilema etika. Dengan mempelajari
modul ini, saya berharap saya akan menjadi pemimpin nantinya , yang semua kuputusan
yang saya ambil selalu berpihak kepada anak, berdasarkan nilai, dan tentu saja
memiliki kebermanfaatan bagi orang banyak.



.png)

